Who Else Wants to Learn Arabic So They Can Speak Arabic Confidently and Naturally?

Laman

sejarah Invasi Eropa di Aceh dan Seruan Jihad Tengku Chik Di Tiro

Aceh yang merupakan propinsi yang paling ujung letaknya, di sebelah utara pulau Sumatra, bagian paling barat dan paling barat dan paling utara dari Kepulauan Indonesia. Secara astronomis, Aceh ini terletak di antara 950 13’ dan 980 17’ BT dan 20 8’ dan 50 40’ LU2 (JMBRAS, 1879: 129). Daerah ini mencakup daerah seluas 55.390 Km. Dengan demikian, secara geografis, Aceh mempunyai letak yang sangat strategis. Daerah ini terletak di tepi Selat Malaka. Karena letaknya di tepi Selat Malaka, maka daerah ini penting pula dilihat dari sudut lalu lintas internasionai sehingga merupakan pintu gerbang sebelah barat kepulauan Nusantara.
Sejak zaman Neolithikum, Selat Malaka merupakan terusan penting dalam migrasi bangsa di Asia, gerak ekspansi kebudayaan India dan sebagai jalan niaga dunia selat Malaka adalah jalan penghubung antara dua pusat kebudayaan Cina dan India. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila wilayah sekitar Selat Malaka selalu mempunyai peranan penting sepanjang gerak sejarah Indonesia. Muncul dan berkembangnya kerajaan di sekitar wilayah ini tidak mungkin kita pisahkan dari letak geografisnya yang sangat strategis tersebut. Karena keadaan geografis yang strategis ini membawa dampak Aceh banyak didatangi oleh berbagai bangsa asing dengan berbagai macam motif dan kepentingan, baik budaya, politis, maupun ekonomis. Dengan berbagai motif dan kepentingan tersebut akan dapat membawa dampak positif dan negatif pula bagi perkembangan sejarah Aceh itu sendiri.
Di antara bangsa asing (Barat) terdapat bangsa yang bermaksud menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Aceh, sehingga timbullah reaksi yang berupa perlawanan-perlawanan terhadap bangsa asing yang melakukan tindakan tersebut. Salah satu bangsa asing pertama yang menghadapi perlawanan rakyat Aceh adalah Portugis. Sejak Portugis menduduki Malaka pada tahun 1511 Aceh merasa kedudukannya terancam. Karenanya Aceh mencoba melawan dan mengusir Portugis dari Malaka.. Serangan terhadap kedudukan Portugis berulang kali dilakukan, yang pertama pada tahun 1537 dan yang terakhir pada tahun 1568. Pada serangan terakhir itu, Aceh telah menggunakan kekuatan yang terdiri atas 15.000 tentara Aceh, 400 tentara bantuan khilafah dari Turki, disertai pula dengan 200 buah meriam besar dan kecil
Bangsa Asing lain yang berusaha menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Aceh adalah Belanda. Rintisan permakluman perang Aceh oleh Belanda diumumkan oleh komisaris pemerintah yang merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda F.N. Nieuwenhuijn, diawali dengan penandatanganan Traktat Sumatra antara Belanda dan Inggris dalam tahun 1871, yang antara lain "memberi kebebasan kepada Belanda untuk memperluas kekuasaannya di Pulau Sumatra" sehingga tidak ada kewajiban lagi bagi Belanda untuk menghormati hak dan kedaulatan Aceh yang sebelumnya telah diakui, baik oleh Belanda maupun lnggris seperti yang tercantum di dalam Traktat London yang ditandatangani pada tahun 1824.
Pada hari Rabu tanggal 26 Maret 1873 dari geladak kapal perang Citadel Van Antwerpen - yang berlabuh di antara pulau Sabang dengan daratan Aceh -Belanda memaklumkan perang kepada Aceh. Mulai saat itu, Aceh tertimpa malapetaka dan Belanda sendiri menghadapi suatu peperangan yang paling dahsyat, terbesar, dan terlama semenjak kehadirannya di Nusantara. Namun demikian, permakluman perang tersebut tidak serta merta diikuti dengan kegiatan fisik militer karena Belanda masih menunggu terhimpunnya kekuatan perangnya yang sedang bergerak menuju Aceh dan kapal-kapal perang Belanda yang telah tiba di Aceh terus melakukan pengintaian dan provokasi di perairan Aceh. Selain itu, Belanda mengirim surat kepada Sultan yang meminta agar ia mengakui kepemimpinan penjajahan Belanda.
pada tanggal 26 Maret 1873, Gubernur Hindia Belanda yang berpusat di Jawa, menyatakan perang kepada Kerajaan Aceh / Sultan Mahmud Shah yang dilengkapi dengan "Ultimatum" yang berisi:
1. Aceh menyerah kalah dengan tanpa syarat;
2. Turunkan bendera Aceh dan kibarkan bendera Belanda;
3. Hentikan perbuatan berpatroli di Selat Melaka;
4. Serahkan kepada Belanda sebagian Sumatera yang berada dalam lindungan Sultan Aceh;
5. Putuskan hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah di Turki.
"Ultimatum" ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan Aceh, maka terjadilah perang melawan Belanda pada 4 April 1873.Dinyatakan pula bahwa Aceh telah melanggar pasal-pasal perjanjian pada tahun 1857. Batas waktu yang diberikan 1 x 24 jam oleh Belanda kepada Sultan Aceh menunjukkan bahwa Belanda benar-benar akan menyerang. Jawaban yang diberikan Sultan jauh dari memuaskan bahkan ditegaskan bahwa di dunia tidak seorang pun yang berdaulat kecuali Allah semata. . Dihadapkan dengan kenyataan perang yang akan segera meletus, maka Aceh melakukan mobilisasi, baik di sekitar pantai yang berhadapan langsung dengan armada Belanda seperti di sekitar Ule Lheue. Pantai Ceureumen, Kuta Meugat, Kuala Aceh maupun di tempat strategis lainnya serta pusat-pusat kekuatan di Mesjid Raya, Peunayong, Meuraksa, Lam Paseh, Lam Jabat, Raja Umong, Punje, Seutuy, dan di sekitar Dalam (Kraton Sultan).
Akhirnya, tindak lanjut dari permakluman perang Belanda kepada Aceh menjadi kenyataan. Pada tanggal 6 April 1873 dengan kekuatan 3.200 prajurit dan 168 perwira yang dipimpin J.H.R. Kohler, Belanda mendaratkan pasukannya di Pantai Ceureumen. Dengan demikian, terlihatlah nyata niat jahat Belanda untuk menancapkan kekuasaannya di bumi Aceh. Suatu perang kolonial resmi telah dikibarkan oleh pihak Belanda. Perang ini kemudian dikenal oleh masyarakat Aceh sebagai "Perang Belanda atau Perang Kaphe Ulanda", yang oleh Belanda dikenal dengan "Perang Aceh". Kemudian, pantai Ceureumen pun menjadi lautan darah. Banyak anggota pasukan Belanda dan rakyat Aceh yang gugur. Menurut catatan para pejuang Aceh yang gugur diperkirakan 900 orang . Walaupun demikian, penyerangan pertama Belanda ini dianggap gagal karena serangan ini tidak berhasil menundukkan Aceh. Di samping kuatnya perlawanan, kurangnya informasi tentang Aceh serta keadaan musim yang tidak menguntungkan menjadi sebab serangan pertama Belanda ini gagal. J. H. R. Kohler sebagai panglima perang pun tewas tertembak oleh seorang anggota pasukan Aceh di dekat Masjid Raya. Belanda tidak dapat menguasai kraton. Mereka dipukul mundur dengan menderita kekalahan berat, 45 orang tewas termasuk 8 opsirnya serta 405 orang luka-luka diantaranya 23 opsir. Pada tanggal 29 April 1873 pasukan Belanda ditarik kembali ke Batavia .
Hal ini menunjukkan bahwa Belanda tidak tahu kondisi Aceh secara menyeluruh. Semula Belanda menduga Aceh dapat ditaklukkan dengan mudah seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Menurut Belanda pada saat itu Aceh berada dalam masa kemunduran apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, baik dari segi politik maupun segi ekonomi. Tentang ini Kraijnhoof, misalnya, menyimpulkan bahwa situasi pemerintahan kesultanan Aceh lemah dan perlengkapan militer tidak berarti dibandingkan dengan Belanda. Oleh karena itu, Belanda berani menyerang Aceh. Namun kenyataanya perang Belanda di Aceh tidak hanya mencakup masalah ekonomi dan politik, tetapi ada segi-segi lain yang tidak diperhitungkan oleh Belanda, sehingga Belanda menelan kekalahan (Ahmad, dkk, 1993: 4).
Kegagalan ekspansi pertama ini menyebabkan pemerintah Belanda melipatgandakan pasukannya untuk menundukkan Aceh. Untuk itu, Pemerintah Hindia Belanda memanggil seorang pensiunan jenderal, J. Van Swieten. la diangkat sebagai panglima perang pada agresi kedua ini dengan kekuatan 249 perwira dan 6.950 tentara. Dipundaknya terdapat tugas berat untuk menyerang dan merebut Aceh dan kepadanya juga diberi wewenang mengadakan perjanjian dengan sultan. Selain menjadi panglima perang, la diangkat pula sebagai Komisaris Pemerintah Hindia Belanda di Aceh.
Dalam agresi kedua ini Belanda berhasil menduduki istana dan mesjid raya pada tanggal 24 Januari 1874. Namun Belanda tidak berhasil menangkap Sultan beserta keluarganya. Sementara itu, Sultan beserta keluarganya dan pengikutnya sudah lebih dulu menyingkir ke Longbata pada tanggal 15 Januari 1874 sehingga usaha Van Swieten untuk menangkap Sultan menemui kegagalan. Di tempat baru ini Sultan mendirikan markas pertahanannya. Bersama-sama dengan Panglima Polem dan para pengikutnya yang lain, sultan bertekad untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda. Namun nasib buruk tidak dapat dihindari Sultan Mahmud Syah, ia diserang wabah kolera dan mangkat pada tanggal 29 Januari 1874 di Pagar Ayer dan dimakamkan di Cot Bada. Sebagai penggantinya diangkatlah Sultan Muhammad Daud yang masih kecil sebagai Sultan Aceh.
Sejak itulah pemerintah Belanda dengan bermacam-macam siasat politiknya berusaha menaklukkan seluruh Aceh seperti yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Pembesar kerajaan. panglima dan Mujahidin Aceh yang masih mencintai kemerdekaan mengungsi ke pedalaman dan mengadakan perlawanan. Pada waktu Seulimum jatuh pada tahun 1879 dapat dikatakan seluruh Aceh Tiga Sagi berada dalam kekuasaan Belanda dan pemerintahan sipil pun berjalan dengan lancar (Jakub, 1952: 21).
Para Mujahidin Aceh mundur ke daerah yang masih merdeka. Sultan Muhammad Daud yang masih kecil itu serta pengiringnya mengungsi ke pedalaman di Keumala, daerah Pidie, sedangkan Mujahidin Aceh mundur ke Gunung Biram Lamtamot, di kaki Gunung Seulawah. Mereka tidak mau menyerah, biar mati Syahid dalam hutan, asal jangan ditangkap musuh. Namun perlawanan secara teratur tidak ada lagi. Mujahidin Aceh yang berada di kaki Gunung Selawah tersebut lama-kelamaan tidak sabar dan menderita terus-menerus dalam hutan menahan gigitan nyamuk Malaria dan kekurangan makanan. Oleh karena itu, muncullah kemudian dua golongan di kalangan kaum pejuang tersebut, ada yang terpaksa menyerah pulang ke kampung halaman karena tidak tahan menderita lebih lama. Ada pula yang mendaki Seulawah menuju daerah Pidie mencari batuan untuk meneruskan perjuangan.
Pada awal tahun 1881, mereka tiba di Tiro menjumpai Tgk Chik Muhammad Amin Dayah Tjut, seorang ulama Tiro yang mempunyai pengaruh besar. Dua kali diadakan musyawarah antara pemimpin-pemimpin dan ulama-ulama seluruh Pidie. Keputusannya diangkatlah Tgk Sjech Saman, yang terkenal kemudian dengan Tgk Chik Di Tiro, menjadi panglima perang untuk merebut kembali tanah air yang telah jatuh ke tangan musuh. Dengan demikian, dalam kondisi yang amat genting di mana kraton, mesjid raya, wilayah lainnya dikuasai Belanda serta semangat pejuang yang mulai menurun amatlah tepat kalau kemudian muncul kepemimpinan Tgk Sjech Muhammad Saman. Dia seorang pejuang yang mendengungkan perang di jalan Allah, (perang Jihad fisbalillah ) Perang Sabil. Siapa pun yang mati di medan perang, maka disebut mati syahid, surgalah ganjarannya. Pada akhirnya, perang dikumandangkan menyebar ke seluruh wilayah Aceh. Seluruh lapisan masyarakat bahu membahu mengangkat senjata untuk mengusir Belanda dari bumi Aceh.
Muhamad Saman yang kemudian terkenal dengan nama Tgk Chik Di Tiro, adalah putra dari Tengku Sjech Abdullah, anak Tgk Sjech Ubaidillah dari kampung Garot negeri Samaindra, Sigli. Ibunya bernama Siti Aisyah, putri dari Tgk Sjech Abdussalam Muda Tiro anak Leube Polem Tjot Rheum, kakak dari Tgk Chik Muhammad Amin Dajah Tjut. Ia lahir pada tahun 1836 Masehi, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dajah Krueng kenegerian Tjombok Lamlo (Kota Bakti) (Zentgraff, 1982: 29). Teungku Chik Di Tiro mempunyai lima orang putra yaitu Tgk Mat Amin, Tgk Mahidin, Tgk di Tungkob, Tgk di Buket (Tgk Muhammad Ali Zainulabidin), dan Tgk Lambada. Teungku Chik Di Tiro semasa kecilnya hidup dalam masyarakat kaum agama dan bergaul dengan ayahnya yang mengajar bermacam-macam ilmu di Garot. Setelah berusia 15 tahun la pindah belajar pada pamannya Tgk Chik Dayah Tjut di Tiro dalam bermacam macam ilmu. Kemudian, la pindah belajar pada Tgk Muhammad Arsyad (Tgk Chik di Jan di Ie Leubeu). Setelah itu, ia menuntut ilmu lagi pada Tgk Abdullah Dajah Meunasah Blang. Akhirnya, ia belajar pada Tgk Chik Tanjung Bungong di Tanjung Bungong. Namun Tgk. Chik Di Tiro belum puas terhadap ilmu yang didapatnya selama ini. Oleh karena itu, ia kemudian pergi ke Lam Krak, Aceh Besar untuk memperluas wawasan dan pandangannya.
Setelah dua tahun berada di sana, ia pulang kembali ke Tiro dan mengajar bersama pamannya Tgk Dayah Tjut. Dengan kedatangan Muhammad Saman di Tiro dan mengajar di pesantren tersebut menyebabkan pesantren sebagai intitusi pendidikan menjadi semakin terkenal di kalangan masyarakat Aceh. Setelah beberapa tahun di Tiro hatinya tergerak untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam lagi ilmu agama serta menambah wawasannya di Mekkah. Sebelum keberangkatannya ke Mekkah ia minta restu pada pamannya yang sekaligus gurunya Tgk Dayah TJut di Lam Krak.
Selama di Lam Krak Tgk. Chik Di Tiro sempat berjuang melawan Belanda karena ia diajak oleh kawan-kawannya. Oleh karena ada surat dari parnannya agar ia pulang ke Tiro dan segera menunaikan ibadah haji, maka Tgk. Chik Di Tiro meninggalkan teman-teman seperjuangannya dan pergi menunaikan ibadah haji.Di Mekkah seIain menunaikan haji, Tgk. Chik Di Tiro juga mempergunakan waktunya untuk menjumpai pemimpin-pemimpin Mujahidin Islam yang ada di sana. Dari mereka, Tgk. Chik Di Tiro tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imprialisme dan kolonialisme penjajah Barat. Selain itu, ia juga bertemu dengan pejuang Islam lainnya yang berasal dari Jawa, Sumatra, Kalimantan dan pulau-pulau lain di Indonesia. Dari hasil pendidikan agama dan pengalaman selama berada di Mekkah dan ikut perjuangan di Lam Krak itulah tertanam di dalam jiwanya yang berakar dalam dan teguh. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Tgk. Chik Di Tiro sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya Islam dan Umat. Keyakinan ini dibuktikannya dalam kehidupan nyata. Tgk. Chik Di Tiro menerima penunjukkan menjadi panglima perang oleh rakyat dan para ulama.
Ketika awal pertama kali Tgk. Chik Di Tiro berjuang, ia tidak mernpunyai apa-apa. Tanggapan terhadap perjuangannya pun ada yang bersikap sinis kepadanya. Teungku Chik Di Tiro bukan keturunan panglima, ia hanya seorang haji dan ulama. Menghadapi sikap sinis sebagian orang tersebut, Tgk. Chik Di Tiro menerima dengan sabar. Hal tersebut malah menjadikan sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Usaha pertama yang dilakukannya adalah membangkitkan semangat para pejuang dan mengumpulkan para pejuang dalam satu kesatuan yang kokoh yang tidak dapat dipecah belah. Untuk itu, ia mengadakan perjalanan keliling Aceh. Pada setiap kesempatan la singgah di suatu tempat, ia mengadakan ceramah di masjid atau mengadakan kenduri. Pada kesempatan itu ia pergunakan untuk menyebarluaskan ajarannya mengenai perang Jihad FiSabilillah, menyadarkan orang-orang untuk memerangi Penjajahan kaum kafir, berjuang di jalan yang diridhoi oleh Allah, serta untuk memperoleh segala informasi dari mereka yang hadir. Selain itu, ia juga mengirim surat kepada para uleebalang dan keuchik yang tidak dapat dihubungi secara lisan yang berisi panggilan suci kepada mereka untuk berjuang di jalan Allah, baik kepada mereka yang telah mengakul kedaulatan dan memihak kepada Belanda maupun kepada mereka yang karena suatu hal kembali lagi ke kampung halaman. Seruan tersebut ditujukan kepada imam-imam negeri, Teungku-teungku, keuchik, panglima dan akhirnya kepada semua kaum muslimin dan terutama juga untuk Teuku Nek Meuraxa, Tengku Panglima Masjid Raya dan Teuku Malikul Adil.
Seruan yang berisi ajakan Perang Sabil ini diperkuat lagi dengan Hikayat Perang Sabil. Idiologi Perang Sabil ini muncul sejak penjajahan Portugis eropa dihidupkan kembali melalui Hikayat Perang Sabil ketika negeri ini dilanda serangan kaum kafir Belanda eropa sehingga banyak rakyat umum tertarik kepada gerakan Perang sabil yang didengungkan oleh Tgk Chik Di Tiro. Seruan Perang Sabil yang dikumandangkan oleh Tgk. Chik Di Tiro mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, baik kaum ulama maupun panglima. Dengan adanya bantuan tersebut, Tgk. Chik Di Tiro semakin kuat dan siap menghadapi Belanda. Hasil usaha menghimpun kekuatan tidak lah sia-sia. Ulama ini berhasil menghimpun kekuatan sebanyak 6000 orang pasukan
Gerakan angkatan Perang Sabil Tgk. Chik Di Tiro mulai menampakkan pengaruhnya. Pemerintah Hindia Belanda di Aceh pun mulai mendengar gerakan perang ini. Namun mereka belum tahu siapa sebenarnya Tgk Chik Di Tiro. Gubernur Van der Heyden menyebut keadaan Aceh dalam sebuah laporannya sebagai berikut "Suasana Aceh sekarang seperti api dalam sekam ...." .
Setelah persiapan dirasa cukup, maka segera diambil langkah pertama yaitu memutuskan hubungan antar benteng Belanda Pasukan Perang Sabil memotong kawat telepon antar benteng agar mereka tidak dapat saling berhubungan. Sebagai markas besar, Tgk. Chik Di Tiro membangun sebuah benteng yang kuat di Mureu. Lokasi benteng ini mempunyai letak yang sangat strategis yaitu terletak di tepi Krueng Inong. Kemudian, serangan terbuka dilaksanakan dengan menyerang kedudukan benteng benteng Belanda di Krueng Jreu, Gle Kameng, dan Indrapuri. Ketiga benteng tersebut diserang habis-habisan oleh pasukan Perang Sabil. Akhirnya ketiga benteng tersebut dapat direbut oleh pasukan Perang Sabil pada tahun 1881. Belanda dapat dipukul mundur dari ketiga benteng tersebut dan akhirnya memperkuat benteng-benteng di Lambaro, Aneuk Galong, dan Samahani.
Selama kurun waktu 1882-1883 terjadi pertempuran yang dahsyat antara kedua pihak. Pasukan Tgk. Chik Di Tiro mengalami banyak kemajuan. Beberapa benteng dapat direbutnya dari Belanda seperti benteng di Krueng Raja dan Kadju. Karena kuatnya tekanan pasukan Tgk Chik Di Tiro, maka akhirnya Belanda pun menarik diri dari salah satu benteng terkuatnya selama ini di Aneuk Galong dan mundur ke Lambaro dan Keutapang dua. Untuk mempertahankan diri Belanda membuat garis konsentrasi yang terbentang dari Kuta Pohama ke Keutapang Dua. Tgk. Chik Di Tiro berusaha merebutnya dari arah laut, tetapi belum berhasii.
Pada 5 Maret 1883 Gubemur Van Der Hoeven memberitahukan kepada pemerintah pusat Belanda di Jawa tentang kondisi Aceh tersebut. Namun kemudian gubernur ini malah diganti oleh P.F Laging Tobias pada 16 Maret 1883. Pada masa pemerintahannya Belanda menghadapi masalah yang berat sampai pada ia mengeluarkan laporan yang mengatakan bahwa Belanda di Aceh hampir putus asa . Pada masa itu, Tgk. Chik Di Tiro sempat pula menyerang Kutaraja, walaupun tidak berhasil merebutnya. Seorang controuler Belanda J.P. Van der Lith menemui ajalnya sedangkan Panglima Pang Nyak Hasan dari pihak Mujahidin Aceh Syahid .
Melihat Belanda hampir jatuh, Tgk. Chik Di Tiro memberi ultimatum kepada Belanda dengan mengirim surat kepada Asisten Residen Van Langen pada tahun 1885 untuk mengadakan perdamaian. Tgk. Chik Di Tiro bersedia berdamai dengan Belanda apabila Belanda bersedia memeluk agama Islam. Namun surat ini tidak mendapat reaksi apa-apa dari pihak Belanda. Selama tiga tahun, surat perdamaian yang diajukan oleh Tgk. Chik Di Tiro tidak berbalas. Pada Mei 1888, ia mengirim surat lagi dengan nada yang sama kepada pihak Belanda. Namun kali ini pun usaha Tgk. Chik Di Tiro mengajak Belanda untuk berdamai dengan mengajak mereka masuk Islam tidak berhasil. Demikian pula usaha Belanda mengajak ulama ini berdamai dan bersedia berdiam di Kutaraja tidak berhasil.
Akhirnya, Tgk. Chik Di Tiro pun setelah itu tidak pernah lagi mengajak berdamai kepada Belanda. Sejak kegagalan Tgk. Chik Di Tiro mengajak damai dengan Belanda telah berlangsung pertempuran di berbagai tempat seperti di sekeliling Kota Tuanku dan Peukan Krueng Tjut. Dari pertempuran-pertempuran yang telah berlangsung di berbagai tempat tidak tahu berapa kerugian yang jatuh di pihak Belanda, tidak ada angka pasti. Selama Gubernur Van Teijn berkuasa Belanda mempergunakan strategi "Wait and See" yaitu menunggu sampai keadaan berubah. Kenyataannya strategi yang diterapkan Belanda ini hasilnya jauh dari yang diharapkan. Belanda sering terpukul mundur pada banyak pertempuran. Akhirnya, untuk mengimbangi pasukan Aceh Belanda membentuk satu korps tentara baru yang disebut Korps Marsose di bawah pimpinan J. Notten pada tanggal 2 April 1890. Walaupun Belanda membentuk korps Marsose Tgk. Chik Di Tiro dan para Mujahidin Aceh terus bertempur melawan Belanda tidak kurang dahsyatnya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semangat pasukan Mujahidin Aceh pun tidak pernah pupus menghadapi Belanda. Selama tahun 1890 Tgk Muhammad Amin putera Tgk. Chik Di Tiro yang tertua sudah ikut memimpin pasukan. Beberapa kali ia mendapat luka Tembak dan terpaksa diangkut ke Aneuk Galong.
Mengetahui bahwa jiwa Perang Sabil terdapat pada Tgk Chik Di Tiro, maka Belanda berusaha membunuh ulama ini. Belanda kembali mempergunakan siasat adu domba di mana salah seorang bangsawan yang berambisi menjadi panglima sagoe diperalat untuk membunuh ulama tersebut. Tgk. Chik Di Tiro diundang ke Tui Seilemeung dan di dalam benteng itu ulama ini diberi makanan beracun. Tgk. Chik Di Tiro kemudian jatuh sakit. Pada tanggal 25 Januari 1891 ulama ini wafat di Aneuk Galong. Perjuangannya diteruskan oleh anak-anaknya yang lain. Dapat dikatakan tidak satupun diantara anak-anaknya yang tidak terlibat di dalam perang melawan Belanda. Kebesaran dan pengaruh keluarga ini dapat digambarkan seperti yang dikatakan oleh Zentgraaf (1982) sebagai berikut. "Tak ada satu keluarga Aceh pun yang waktu itu, yang begitu besar dalam Perang Aceh, selain keluarga ulama Tiro, dan tidak pula ada keluarga Aceh lainnya, yang meneruskan perjuangan sampai kepada titik darah penghabisan, selain keluarga itu. Keluarga inilah dalam peperangan itu, merupakan sasaran operasi penyerangan bala tentara kita, yang merupakan bahagian yang paling mengesankan dalam sejarah perang Aceh dan dapat menjadi sumber cerita-cerita kepahlawanan".
Kini setelah Fakta Sejarah Menunjukan Usaha Kaum Imperialis Barat Eropa Berulang Kali Mencoba Menjatuhkan Kaum Muslimin Di Aceh Sejak Usaha penjajah Portugis Hingga Penjajah Belanda, Hari Ini Sebahagian Rakyat Aceh Lupa, dan malah mengemis dan sangat bermesraan Dengan Imperialis Eropa Yang Jelas Jelas Masih Membantai Saudara saudara Kita Kaum Muslimin seperti Di Iraq,Afganistan dan Palestina.
Saat ini ada beberapa Ulama yang sangat kita harapkan untuk menyadarkan umat tentang pentingnya kedaulatan syariah malah terJebak sekularisme ini bisa tampak dari pandangan beberapa ulama yang justru menghindar sama sekali dari dunia politik. Muncul anggapan bahwa politik itu kotor, sementara agama itu bersih; tidak pantas ulama memasuki dunia kotor seperti itu. Ulama seharusnya ada di masjid, pesantren dan majelis taklim. Kajian politik—seperti mengoreksi kebijakan penguasa yang membuat rakyat menderita atau intervensi asing yang mengancam negara—di masjid-masjid atau di majelis-mejelis taklim pun dianggap mengotori agama.
Taak sadarkah kita, bahwa Jika Memimpin Kedaulatan Seperti Sultan Iskandar Muda Adalah Aktifitas Politik? Tak Tahukah kita Bahwa memimpin Dan Menyusun Siasat Perang Seperti Tengku Chik Ditiro Bahkan Para Sahabat Rasull Adalah Juga Aktifitas Politik? Apakah Ketika Generasi Islam Kita Menjauh Dari Politik Lantas Rela Di “Politikan”Bahkan Dibodoh bodohi Dengan Politik?
Saat Ini Islam akhirnya disempitkan Hanya sebatas moralitas (akhlak) atau ibadah ritual seperti shalat, zakat, shaum atau haji. Yang lebih menyedihkan, ulama sekuler seperti ini justru akrab dengan penguasa tanpa memberikan kritik terhadap kezalimannya. Jadilah sang ulama menjadi sebatas ‘tukang doa’ bagi penguasa, yang secara tidak langsung memberikan legitimasi terhadap kezalimannya. Kini Rakyat Aceh Masih Menantikan Munculnya kembali Ulama ulama Yang Bersedia Hidup Dan Mati Demi Tegak Nya Syariah.
selama ini ulama dipisahkan dari peran politiknya. Selama 350 tahun masa penjajahan, ditambah lebih dari 60 tahun pasca kemerdekaan, Islam dan ulama dimarjinalkan. Dimunculkanlah anggapan bahwa politik itu kotor. “Padahal politik Islam itu jernih dan mulia karena mengurusi urusan rakyat dengan syariah,”
Sistem sekular juga telah membuat ulama menjadi semacam ‘tukang cuci’. Kalau ada kesalahan yang dilakukan oleh masyarakat atau pejabat, akhlak yang rusak, yang disalahkan ulama. Padahal penyebabnya justru karena penerapan sistem sekular dan pejabat yang tidak amanah. “Bagaimana mungkin menyalahkan ulama atau agama, sementara aturan agama dicampakkan dan ulama dimarjinalkan? Yang harus diisalahkan justru adalah sistem sekularnya,”
Terang saja fatwa ulama atau nasihat ulama tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan karena tidak memiliki kekuatan hukum. Jadilah nasihat atau fatwa sekedar pilihan, bisa dipakai atau dibuang sesuai dengan kepentingan penguasa. “Selama hukumnya bukan berdasarkan syariah Islam, fatwa atau pendapat yang berdasarkan syariah Islam tidak akan dipakai, yang ada adalah asas manfaat,”
Sayangnya, ulama yang terjun ke politik pun tidak mencerminkan aktivitas politik Islam yang sebenarnya. Alih-alih membawa perubahan dalam sistem politik, sang ulama justru terseret arus; berprilaku tidak jauh berbeda dengan politisi sekular lainnya. Kondisi seperti ini semakin menyebabkan ulama kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Muncullah kemudian pernyataan yang salah, “Begitulah kalau ulama terjun ke politik. Seharusnya ulama itu ngurus pesantren atau masjid saja.”
Di sisi lain, ulama tidak jarang dipakai oleh penguasa untuk membenarkan tindakannya atau dimanfaatkan politisi untuk meraih suara. Setiap menjelang Pemilu atau Pilkada ulama dibujuk dengan tawaran kekuasaan atau harta untuk mendukung calon tertentu. Memang, ada yang menolak tawaran ini, namun banyak juga yang menerimanya tanpa melihat apakah sang calon pantas dipilih berdasarkan syariah Islam atau tidak. Tragisnya, setelah mereka terpilih, sang ulama pun ditinggalkan.
Pihak asing juga memanfaatkan peran ulama. Ulama tertentu dipakai untuk menyuarakan kepentingan dan kebijakan asing. Mereka banyak dilibatkan untuk menyuarakan liberalisasi ajaran Islam. Ilmu ulama kemudian dipakai untuk memutarbalikkan ayat al-Quran agar sejalan dengan kepentingan Barat. Muncullah pendapat dari sang ulama yang tidak lebih merupakan corong asing seperti, “tidak ada negara Islam”, atau “negara tidak wajib menerapkan syariah Islam”, dll. Pikiran-pikiran sekular ini kemudian dihiasi dengan ayat-ayat al-Quran ataupun hadis sehingga seakan-akan berasal dari Islam.
Dalam perang melawan terorisme yang merupakan agenda AS, ulama pun dipakai. Dengan memfaatkan suara ulama, umat Islam dikelompokkan menjadi moderat-radikal, liberal-fundamentalis, tekstual-konstektual, dan istilah-istilah lain yang pada intinya berupaya memecah-belah umat Islam. Jihad pun disempitkan maknanya hanya pada pengertian bahasa: bersungguh-sungguh. Jihad secara syar‘i, yang bermakna perang, yang sesungguhnya merupakan kewajiban utama, lalu dianggap sebagai sebuah kejahatan.
Tampaknya umat Islam semakin kehilangan ulama yang memiliki kesadaran politik yang tinggi dengan komitmen memperjuangkan syariah Islam dan nasib umat. Ketika BBM dinaikkan oleh penguasa yang kemudian menambah kemiskinan rakyat, tidak banyak ulama yang mengkritiknya. Padahal kalaulah seluruh ulama turun ke jalan melakukan koreksi keras terhadap penguasa bersama rakyat, tentu penguasa akan lebih banyak mempertimbangkan kebijakannya. Ulama seharusnya berperan penting dalam politik, yakni politik yang berorientasi pada pemeliharaan urusan-urusan umat berdasarkan syariah Islam. Ketidakhirauan ulama terhadap politik akan sangat berbahaya. Penguasa akan semakin sewenang-wenang tanpa ada yang mengingatkan. Umat pun akan semakin rusak akibat sistem politik yang jauh dari syariah Islam.
Di samping itu, diamnya ulama terhadap kebijakan politik penguasa yang jauh dari Islam, akan semakin menambah penderitaan masyarakat. Kebijakan liberalisi ekonomi, privatisasi, kapitalisasi pendidikan dan kesehatan seharusnya dilawan dan dihentikan oleh ulama karena membahayakan dan mengancam kesejahteraan umat. Ulama juga harus mentang keras intervensi asing atau bahkan kerjasama penguasa dengan pihak asing yang berakibat pada keterjajahan bangsa dan negara ini. Akibat diamnya ulama, hilanglah kepercayaan masyarakat terhadap ulama panutan. Penguasa pun semakin merasa benar akan tindakannya karena tidak ada ulama yang mengoreksinya.
Ketika terjadi Perang Aceh, yakni antara Kesultanan Aceh melawan Penjajah Salibis Belanda. Bagi masyarakat Aceh, perang tersebut merupakan perang sabil (Perang di jalan Allah), karena melawan kape (orang kafir) Belanda. Kekuasaan pelaksanaan perang dipimpin oleh ulama dan uleebalang seperti Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman (Wilayah Aceh Barat dan Aceh Pidie), Teungku Chik Di Paya Bakong bersaudara, Teungku Syeh Ibnu Hajar, Tengku Chik Di Paya Bakong Chatib, Teungku Chik Di Paya Bakong Seupot Mata (wilayah Aceh Utara dan Aceh Timur), Teuku Cut Ali (Aceh Selatan), dan lain-lain.
Ulama harus menanamkan tauhid pada umat dan di atasnya dibangun kesadaran politik yang akan mendorong umat untuk melakukan perubahan ke arah Islam,” .

doa
“Ya Allah…muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, serta hinakanlah siapa saja yang memerangi Kami!! dan berikanlah pertolonganmu dalam perjuangan menegakan Syariah mu dalam tatanan Daulah Khilafah ….”ya Allah sungguh hanya kepada engkaulah orang - orang mukmin bersujud dan mengadu akan kehidupan dunia yang membuat mereka kadang terlupakan akan kehidupan akhirat ,ya Allah ampuni dosa-dosa kami, ampuni dosa kedua orangtua kami,syangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kecil,bahkan lebih dari itu ya Allah.
Ya Allah ya Rahman limpahkanlah rasa cintakasih pada kami,agar kami menyayangi anak-anak kami,mencintai janin janin kami,merawat bayi bayi kami yang telah engkau titipkan pada kami ya Allah
.ya Allah limpahkan lah pada kami rizqi yang hallal darimu, agar kami bisa menafkahi keluarga kami, anak anak kami,orangtua kami,dan orang orang yang menjadi tanggungan kami dengan rizqi mu yang hallal ya Allah.
ya Allah yang Menurunkan Islam, jadikan lah Al Quran dan Assunah sebagai petunjuk kami,sebagai penerang kejailiyahan kami,dan sebagai penghibur kegalauan hati kami.
ya Allah anugrahkan pada kami seorang pemimpin yang dapat menjalankan seluruh Syariatmu Ya Allah,anugrahkan pada kami sebuah Negara yang menjalankan seluruh aturanmu Ya Allah ,Negara khilafah yang mengikuti metode kenabian, karena hanya dengan Negara seperti itu kami dapat mendapatkan kemuliaan dunia dan kemuliaaan akhirat
maka berilah kami semangat memperjuangkan agama mu yang engkau berikan kepada khalid bin walid. dan keberhasilan yang engkau berikan kepada sultan iskandar muda untuk kembali menegakan ajaran mu ya Allah…….. jadikanlah kami hamba yang berguna bagi tegaknya agama mu yang mulai runtuh sebagai mana sallahuddin al ayubi berusaha tetap menegakan ajaranmu di saat umat islam terpecah dan orang - orang kafir berkuasa …ya Allah kami muak hidup dalam naungan hukum buatan manusia maka tolonglah kami ya Allah dalam meneggakkan kembali Syariah mu dalam naungan daulah Khilafah islamiyah amin ya roobal alamin…….

Related Article:

0 comments:


 
Copyright 2010 skooplangsa. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog