Who Else Wants to Learn Arabic So They Can Speak Arabic Confidently and Naturally?

Halaman

Tampilkan postingan dengan label pejuang islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pejuang islam. Tampilkan semua postingan

kisah Suraqah bin Malik



Menuju Arafah dari Jabal Tsaur biasanya banyak orang menyambung cerita kisah penghijrahan Rasulullah SAW dan Saiyidina Abu Bakar As Siddiq. Kisah yang sangat menyentuh hati kita ialah peristiwa Suraqah bin Malik. Bagaimana kisahnya?!
Rasa kecewa, marah dan putus asa berkecamuk dalam dada para pembesar Quraisy. Mereka gagal menghalang langkah Rasulullah SAW dan Saiyidina Abu Bakar RA yang berhijrah ke Yasrib. Padahal mereka sudah mengepung rumah Rasulullah SAW, bahkan sudah sampai di pintu Gua Tsaur, tempat persembunyian Rasulullah SAW dan sahabatnya, As Siddiq. Akhirnya mereka memutuskan membuat tawaran untuk menangkap keduanya. Agar tidak terlalu berat menanggung malu, tawaran itu diumumkan ke seluruh kabilah yang banyak di sepanjang jalan antara Makkah dan Yasrib.
“Barang siapa yang berhasil membawa Muhammad, hidup atau mati, maka baginya seratus ekor unta betina yang hampir beranak.” Begitulah pengumuman mereka.
Dengan segera berita itu tersebar ke mana-mana. Tak terkecuali ke Madlaj, kampung kecil di pinggiran kota Makkah. Ketika utusan dari Makkah datang membawa berita tawaran itu, beberapa penduduk kampung itu sedangberbincang bincang di tempat pertemuan biasa di kampung itu. Mendengar pengumuman itu, seorang pemuda bernama Suraqah bin Malik Al Madlaji sangat tertarik. Dia bertekad merebut hadiah besar itu. Rasa tamak mendorongnya ingin memenangkan tawaran itu sendirian. Kerana itu, ia tidak memceritakan rencananya kepada orang lain.
Kebetulan, ada seorang lelaki datang ke tempat pertemuan warga kampung itu. Dia bercerita bahwa baru saja dia bertemu dengan tiga orang musafir. Dia merasa, ketiga orang itu adalah Muhammad, Abu Bakar dan seorang penunjuk jalan.
“Tidak mungkin!” bantah Suraqah. “Mereka adalah Bani Fulan yang tadi lalu di sini untuk mencari unta mereka yang hilang,” kata Suraqah untuk menarik perhatian mereka.
“Mungkin saja,” kata yang lain mengiyakan Suraqah. Cerdik Suraqah, siasatnya tak menimbulkan kecurigaan orang-orang kampung itu. Ketika mereka beralih membicarakan isu yang lain, diam-diam Suraqah menyelinap keluar. Ia bergegas pulang. Sampai di rumah, ia menyuruh budaknya menyiapkan kuda dan membawanya ke sebuah lembah yang telah ditentukan dan menambatkannya di sana.
“Keluarlah dari pintu belakang. Hati-hati, jangan sampai dilihat orang! Siapkan juga senjataku,” perintah Suraqah.
Beberapa saat kemudian, Suraqah pergi menyusul. Setelah berjumpa dengan budaknya, segera ia mengenakan baju besi, menyandang pedang dan memasang pelana. Kemudian dia menunggang kudanya selaju-lajunya. Dalam fikirannya terbayang seratus ekor unta akan berada dalam genggamannya.
Suraqah bin Malik terkenal sebagai penunggang kuda yang handal. Sosok badannya tinggi besar, pandangan matanya tajam. Sangat sesuai menjadi pakar pencari jejak. Tidak ada jalan yang sulit baginya. Apalagi kudanya tangkas dan terlatih baik.
Suraqah terus menunggang laju kudanya. Tanpa diduga, tiba-tiba kaki kudanya tersandung sesuatu lalu Suraqah pun jatuh terguling. “Celaka kau kuda!” katanya menyumpah kesal.
Tanpa mempedulikan rasa sakit, ia melompat lagi ke atas kudanya dan terus menunggangnya. Baru beberapa langkah, kudanya terjatuh lagi. Suraqah merasa semakin kesal tetapi. Belum pernah ia mengalami kejadian seperti ini. Sempat terdetik di hatinya untuk kembali saja ke kampungnya. Tapi cita-citanya untuk memiliki seratus ekor unta membakar semangatnya untuk menunggang kembali kudanya.
Tiba-tiba dada Suraqah berombak. Berdebar tetapi gembira. Kegembiraan yang luar biasa menguasai hatinya. Tidak begitu jauh di depan, dia melihat tiga orang sedang berjalan. Dia yakin mereka adalah targetnya. Perlahan-lahan ia mendekati mereka. Bila sampai dalam jarak yang sangat dekat, tangannya bergerak mengambil busur. Kuasa Tuhan mengatasi segalanya. Mukjizat Rasulullah berlaku, tiba-tiba tangannya menjadi kaku, sedikitpun tak dapat digerakkan. Kaki kudanya terbenam pasir. Debu-debu berterbangan di sekitarnya, membuat matanya kabur dan tak dapat melihat. Dicobanya memaksa kudanya tetapi sia-sia saja. Kaki kudanya tertanam di padang pasir seakan dipasak. Dalam keadaan panik, Suraqah akhirnya menjerit, 
“Tolong,tolong berdoalah kepada Tuhan kalian, supaya Dia melepaskan kaki kudaku. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian!”
Rasulullah menoleh, tersenyum, dan berdoa. Sungguh menakjubkan, kaki kuda Suraqah bebas dari cengkaman pasir. Suraqah merasa heran dan kagum. Namun rasa tamak yang telah menguasai dirinya membuatkan ia melupakan janjinya. Secara tiba-tiba ia melaju ke depan untuk mengejar Rasulullah SAW . Malang baginya, kaki kudanya terbenam lagi, bahkan lebih parah dari yang pertama. Rasa takut menguasai hatinya. Ia segera memohon belas kasihan kepada Rasulullah SAW.
“Ambillah bekalanku, harta, dan senjataku. Aku berjanji, demi Allah, tidak akan mengganggu kalian lagi,” ucap Suraqah.
“Kami tidak membutuhkan hartamu. Jika kamu menyuruh setiap orang yang hendak mengejar kami supaya kembali, itu sudah cukup bagi kami,” jawab Rasulullah SAW. Rasulullah lantas berdoa, dan bebaslah Suraqah dan kudanya.
“Demi Tuhan, saya tidak akan mengganggu tuan-tuan lagi. Aku akan menyuruh setiap orang yang berusaha mengejar kalian supaya pulang nanti,” janji Suraqah seraya berbalik untuk pulang.
“Apa yang engkau kehendaki dari kami?” tanya Rasulullah SAW.
“Demi Allah, wahai Muhammad, saya yakin agama yang engkau bawa akan menang dan kekuasaan engkau akan tinggi. Berjanjilah padaku, apabila aku datang menemuimu nanti, sudilah engkau bermurah hati padaku untuk menerimaku.”
“Hai Suraqah, bagaimana jika pada suatu waktu engkau memakai gelang kebesaran Kisra?” tanya Rasulullah SAW.
“Gelang kebesaran Kisra bin Hurmuz?” cetus Suraqah hairan.
“Ya, gelang kebesaran Kisra bin Hurmuz!”
“baiklah Tuliskanlah itu untukku.”
Rasulullah menyuruh Saiyidina Abu Bakar RA menulis pada sepotong tulang, lalu beliau memberikan tulang itu kepada Suraqah.
Setelah yakin Rasulullah dapat meneruskan perjalanannya dengan aman, Suraqah kembali pulang. Di tengah jalan ia berpesan kepada orang-orang yang hendak mengejar Rasulullah SAW. “Kembalilah kalian semuanya! Telah kuperiksa seluruh tempat dan jalan-jalan yang mungkin dilaluinya. Namun aku tidak menemukan Muhammad ! dan kalian semua tidak seahli aku dalam mencari jejak!” Jerit Suraqah kepada mereka.
Dengan kecewa, orang-orang itu membatalkan niatnya. Sementara Suraqah tetap merahsiakan pertemuannya dengan Rasulullah SAW. Setelah ia yakin benar Rasulullah SAW telah tiba di Madinah, barulah ia membuka rahsia itu. Mendengar cerita Suraqah, Abu Jahal tersangat marah dan menjerit, “Pengecut! Tak tahu malu! Engkau benar-benar bodoh!” teriak Abu Jahal.
“Hai Abul Hakam! Demi Allah, kalaulah engkau mengalami peristiwa yang kualami ketika kaki kudaku terbenam ke dalam pasir, engkau akan yakin dan tak akan ragu sedikit pun, bahwa Muhammad itu benar-benar utusan Allah. Baiklah, siapa yang sanggup menentangnya, silakan!” sahut Suraqah tak mau mengalah.
Hari terus berganti. 
Sepuluh tahun kemudian, Rasulullah yang dulunya meninggalkan kampung halamannya  kini berhasil menaklukan kota Mekah, kota kelahirannya. Saat itulah, para pembesar Quraisy yang selama ini memusuhinya, datang menghadap dengan kepala tunduk. Rasa takut dan cemas memenuhi hati mereka. Keinginan mereka hanya satu: Mohon belas kasihan dan mengharapkan ampunan Rasulullah SAW dan menyakini baginda bukanlah pendendam, karenanya mereka semua dilepas dan dimaafkan. “Pergilah, kalian semua bebas,” ucap Rasulullah.
Beberapa saat kemudian, datang seorang lelaki dengan menunggang kuda. Ia ingin sekali menemui Rasulullah SAW. Lelaki itu adalah Suraqah yang ingin menyatakan imannya di hadapan Rasulullah SAW langsung. Tidak lupa dia membawa sepotong tulang bertuliskan perjanjian Rasulullah SAW kepadanya sepuluh tahun yang lalu. Suraqah berhasil menemui Rasulullah SAW di Ja’ranah, di perkemahan pasukan berkuda bersama kaum Ansar. Tetapi orang-orang yang ada di sekeliling perkemahan itu tidak mengizinkan Suraqah untuk menghampiri baginda.
“Berhenti! Berhenti! Hendak ke mana engkau?” Halang mereka.
Suraqah diam saja. Pukulan dan usaha para sahabat untuk menghalanginya tidak dihiraukan. Ia terus melaju sehingga dekat dengan Rasulullah SAW yang sedang duduk di atas unta. Saat itupun Rasulullah SAW melihatnya, Suraqah segera mengangkat tulang yang dipegangnya.
“Wahai Rasulullah, saya Suraqah bin Malik. Dan inilah tulang bertuliskan perjanjian engkau kepadaku dahulu.”
“Mari ke sini wahai Suraqah! Hari ini adalah hari menepati janji!” sahut Rasulullah SAW.
Di hadapan Rasulullah, Suraqah mengikrarkan keislamannya. Tak lama kemudian, hanya dalam waktu lebih kurang sembilan bulan sesudah keislamannya, Rasulullah SAW kembali menemui ilahi. Semua sahabat bersedih, begitu Suraqah. Bayangan masa lalunya muncul, ketika ia hendak membunuh Rasulullah SAW yang mulia, hanya karena tamakkan seratus ekor unta. Sedangkan sekarang andaikata seluruh unta di muka bumi dikumpulkan untuknya, tiadalah berharga dibanding ujung kuku . Tanpa disedarinya, dia mengulangi ucapan Rasulullah SAW kepadanya, 
“Bagaimana, hai Suraqah, jika engkau memakai gelang kebesaran Kisra?”
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam dipimpin oleh Saiyidina Abu Bakar As Siddiq. Tetapi, hingga Saiyidina Abu Bakar wafat Suraqah belum memperolehi janji Rasulullah SAW kepadanya karena memang persia  belum ditakluki. Namun Suraqah tidak pernah ragu, suatu waktu janji itu pasti terbukti. Ya, diakhir zaman Khalifah Saiyidina Umar bin Khattab, tentera Islam berhasil menaklukan kerajaan Persia.
Beberapa utusan panglima Sa’ad bin Abi Waqqash yang telah menakluk Persia tiba di Madinah. Selain melaporkan kemenangan-kemenangan yang dicapai tentera Muslim, mereka juga menyimpan seperlima harta rampasan perang yang diperolehi selama mereka berjuang menegakkan kalimatullah.
Khalifah Umar terpegun melihat timbunan rampasan perang itu. Ada mahkota raja-raja, pakaian kebesaran kerajaan bersulam, dan lain-lain harta benda yang sangat indah. Khalifah mengais ngais timbunan harta itu dengan tongkatnya. Kemudian berpaling kepada orang-orang yang berada di sekitarnya lalu berkata, “Alangkah jujurnya orang-orang yang menyimpan semua ini.”
Ali bin Abi Thalib yang turut ada ketika itu menyahut, “Wahai Amirul Mukminin, oleh kerana engkau jujur maka rakyat pun jujur juga. Tetapi jika engkau khianat, maka rakyat akan khianat pula.”
Ketika itu, Khalifah Umar mengambil dua gelang kebesaran Kisra dan menyerahkannya kepada Suraqah bin Malik. Saat itulah Suraqah teringat kembali janji Rasulullah kepadanya. Setelah menanti sekian lama, janji itu terbukti akhirnya...


Sejarah Sang Pedang Allah (khalid bin al waleed)


Dahulu sebelum masuk Islam Nama Khalid bin Walid sangat termashur sebagai panglima Tentara Kaum Kafir Quraisy yang tak terkalahkan. Baju kebesarannya berkancingkan emas dan mahkota dikepalanya bertahtahkan berlian . Begitu gagah dan perkasanya Khalid baik di Medan perang maupun  ahli dalam menyusun strategi perang.  Pada waktu Perang UHUD melawan tentara Muslimin pimpinan Rosululloh SAW banyak  Suhada yang Syahid terbunuh ditangan Khalid bin Walid dengan dengan  Suara lantang diatas perbukitan  Khalid bin Walid berkata” Hai Muhammad kami sudah Menang, kamu telah kalah dalam peperangan ini….lihatlah pamanmu Hamzah yang tewas tercabik cabik tubuhnya dan lihatlah pasukanmu yang telah porak poranda”. Rosululloh saw menjawab “Tidak aku yang menang dan engkau yang kalah Khalid …Mereka yang gugur adalah Syahid , sebenarnya mereka tidak mati wahai Khalid mereka hidupdisisi Alloh SWT penuh dengan kemuliaan dan kenikmatan , mereka telah berhasil pindah alam dari dunia menuju akherat menuju surga Alloh karena membela Agama Alloh gugur sebagai syuhada akan tetapi Matinya tentaramu , matinya sebagai Kafir dan dimasukkan ke Neraka Jahannam. Setelah itu Khalid memerintahkan pasukannya untuk kembali, sejak itu Khalid termenung terngiang selalu akan kata kata  Nabi Muhammad saw dan penasaran akan sosok Muhammad saw . Maka Khalid mengutus mata-mata ( intel ) untuk memantau dan mengamati aktivitas Muhammad Saw setelah perang Uhud tersebut. Setelah cukup lama memata-matai Rosululloh akhirnya utusan Khalid bin Walid melaporkan hasil pengamatan tersebut , kata utusan tersebut” Aku mendengar semangat juang yang dikemukakan muhammad kepada para pasukannya Muhammad  mengatakan ” Aku heran kepada seorang panglima khalid bin Walid yang gagah perkasa dan cerdas , tapi kenapa dia tidak paham dengan AGAMA ALLOH  yang aku bawa , sekiranya Khalid bin Walid tahu dan paham dengan Agama yang aku bawa , dia akan berjuang bersamaku( Muhammad ) , Khalid akan aku jadikan juru rundingku yang duduk bersanding di sampingku. Kata kata mutiara tersebut disampaikan mata-mata Khalid bin walid di Mekkah kepada panglimanya.
Mendengar laporan Intel tersebut semakin membuat Risau Khalid bin Walid hingga akhirnya Khalid memutuskan untuk bertemu Muhammad dengan menyamar dan menggunakan Topeng menutup wajahnya hingga tidak di kenali oleh siapapapun. Khalid berangkat seorang diri dengan menunggang Kuda dan menggunakan baju kebesarnnya yang berhias emas serta mahkota bertahta berlian namun wajahnya ditutupi Topeng. Di tengah perjalanan Khalid bertemu dengan Bilal yang sedang bedakwah kepada para petani. Dengan Diam-diam Khalid mendengarkan dan menyimak apa yang di sampaikan oleh Bilal yang membacakan surat al hujarat ( Qs 49:13 ) yang artinya” Hai manusia kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling mengenal dengan baik. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Alloh adalah orang-orang yang paling bertaqwa karena sesungguhnya Alloh maha mengetahui lagi maha Mengenal”
Khalid terperanga bagaimana mungkin Bilal yang kuketahui sebagai Budak hitam dan buta hurup bisa berbicara seindah dan sehebat itu  tentu itu benar perkataan dan Firman Alloh. Namun gerak gerik mencurigakan Khalid bin walid di ketahui sayyidina Ali bin Abi Thalib , dengan lantang Ali berkata” Hai penunggang Kuda Bukalah topengmu agar aku bisa mengenalimu, bila niatmu baik aku akan layani dengan baiki  dan bila niatmu buruk aku akan layani pula dengan buruk” Kata Ali bin Abi thalib.
Setelah itu dibukalah Topeng tampaklah wajah  Khalid bin Walid seorang Panglima besar kaum Kafir Quraisy yang berjaya diperang UHUD  dengan tatapan mata yang penuh karismatik Khalid berkata” Aku kemari punya Niat baik untuk bertemu Muhammad dan menyatakan diriku masuk Islam” Kata Khalid bin Walid. Wajah Ali yang sempat tegang berubah menjadi berseri-seri” Tunggulah kau di sini Khalid saya akan sampaikan berita gembira ini kepada Rosululloh saw” Kata Ali bi Abi thalib. Bergegas Ali menemui Rosululloh saw dan menyampaikan maksud kedatangan Khalid bin Walid sang panglima perang . Mendengar berita yang disampaikan Ali , wajah rosululloh SAW berseri seri lalu mengambil sorban hijau miliknya lalu dibentangkan di tanah sebagai tanda penghormatan kepada Khalid bin walid  yang akan datang menemuinya. Lalu Rosululloh saw menyuruh Ali menjemput  Khalid untuk menemuinya. Begitu Khalid datang Rosululloh langsung memeluknya. ” Ya rosululloh islam saya ” Kata Khalid bin Walid. Lalu Rosululloh saw mengajarkan kalimat Syahadat kepada Khalid maka Khalid bin walid telah memeluk agama Islam.
Begitu selesai membaca syahadat Khalid bin walid menanggalkan Mahkotanya yang bertahtahkan intan diserahkan kepada rosululloh, begitu pula dengan bajunya yang berkancingkan emas di serahkan juga kepada rosululloh saw. Namun begitu Khalid bin walid akan mencopot pedangnya dan menyerahkannya kepada Rosululloh , Baginda rosululloh melarangnya ” Jangan kau lepaskan pedang itu Khalid , karena dengan pedang itu nanti kamu akan berjuang membela agama Alloh bersamaku ” Kata Rosululloh saw . dan Nabi memberi gelar pedang tersebut dengan nama “Syaifulloh yang artinya “pedang Alloh yang terhunus. Setelah bergabungnya Khalid bin walid kedalam Islam, bertambah kuatlah pasukan Muslim hingga bisa menaklukan kota Mekkah dan Pasukan Kafir Quraiys secara drastis melemah bagaikan ayam kehilangan induknya
 Khalid bin Walid juga pernah menceritakan perjalanannya dari Mekah menuju Madinah kepada Rasulullah:
“Aku menginginkan seorang teman seperjalanan, lalu kujumpai Utsman bin Thalhah; kuceritakan kepadanya apa maksudku, ia pun segera menyetujuinya. Kami keluar dari kota Mekah sekitar dini hari, di luar kota kami berjumpa dengan Amr bin Ash.
Maka berangkatlah kami bertiga menuju kota Madinah, sehingga kami sampai di kota itu di awal hari bulan Safar tahun yang ke delapan Hijriyah. Setelah dekat dengan Rasulullah saw kami memberi salam kenabiannya, Nabi pun membalas salamku dengan muka yang cerah. Sejak itulah aku masuk Islam dan mengucapkan syahadat yang haq…”
Rasulullah bersabda, “Sungguh aku telah mengetahui bahwa anda mempunyai akal sehat, dan aku berharap, akal sehat itu hanya akan menuntun anda kejalan yang baik…” Oleh karena itulah, aku berjanji setia dan bai’at kepada beliau, lalu aku Mohon “Mohon Rasulullah mintakan ampun untukku terhadap semua tindakan masa laluku yang menghalangi jalan Allah…”
Dalam perang Muktah, ada tiga orang Syuhada Pahlawan, mereka adalah Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, mereka bertiga adalah Syuhada Pahlawan si Pedang Allah di Tanah Syria. Untuk keperluan perang Muktah ini, pasukan musuh, Pasukan Romawi mengerahkan sekitar 200.000 prajurit.
Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Panji perang di tangan Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersama panjinya sampai ia tewas. Kemudian panji tersebut diambil alih oleh Ja’far, yang juga bertempur bersama panjinya sampai ia gugur sebagai syahid. Kemudian giliran Abdullah bin Rawahah memegang panji tersebut sambil bertempur maju, hingga ia juga gugur sebagai Syahid.”
“Kemudian panji itu diambil alih oleh suatu Pedang dari pedang Allah, lalu Allah membukakan kemenangan di tangannya.”
Sesudah Panglima yang ketiga gugur menemui syahidnya, dengan cepat Tsabit bin Arqam menuju bendera perang tersebut, lalu membawanya dengan tangan kanannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah-tengah pasukan Islam agar barisan mereka tidak kacau balau, dan semangat pasukan tetap tinggi…
Tak lama sesudah itu, dengan gesit ia melarikan kudanya kearah Khalid bin Walid, sambil berkata kepadanya, “Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman…!”
Khalid merasa dirinya sebagai seorang yang baru masuk Islam, tidak layak memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat orang-orang Anshor dan Muhajirin yang terlebih dahulu masuk Islam daripadanya, Sopan, Rendah hati, arif bijaksana, itulah sikapnya. Ketika itu ia menjawab, “Tidak….. jangan saya yang memegang panji suci ini, engkaulah yang paling berhak memegangnya, engkau lebih tua, dan telah menyertai perang Badar!
Tsabit menjawab, “Ambillah, sebab engkau lebih tahu siasat perang daripadaku, dan demi Allah aku tidak akan mengambilnya, kecuali untuk diserahkan kepadamu!”  kemudian ia berseru kepada semua pasukan muslim, Bersediakah kalian di bawah pimpinan Khalid?” mereka menjawab, “Setuju!”
Dengan gesit panglima baru ini melompati kudanya, di dekapnya panji suci itu dan mencondongkannya kearah depan dengan tangan kanannya, seakan hendak memecahkan semua pintu yang terkunci itu, dan sudah tiba saatnya untuk di dobrak dan diterjang. Sejak saat itulah, kepahlawanannya yang luar biasa, terkuak dan mencapai titik puncak yang telah ditentukan oleh Allah baginya…
Saat perang Muktah inilah korban di pihak kaum muslimin banyak berjatuhan, dengan tubuh-tubuh mereka berlumuran darah, sedang balatentara Romawi dengan jumlah yang jauh lebih besar, terus maju laksana banjir yang terus menyapu medan tempur.
Dalam situasi yang sangat sulit itu, tak ada jalan dan taktik perang yang bagaimanapun, akan mampu merubah keadaan. Satu-satunya jalan yang dapat dilakukan oleh seorang Komandan perang, ialah bagaimana melepaskan tentara Islam ini dari kemusnahan total, dengan mencegah jatuhnya korban yang terus berjatuhan, serta berusaha keluar dari keadaan itu dengan sisa-sisa yang ada dengan selamat
Pada saat yang genting itu, tampillah Khalid bin Walid, si Pedang Allah, yang menyorot seluruh medan tempur yang luas itu, dengan  kedua matanya yang tajam. Diaturnya rencana dan langkah yang akan diambil secepat kilat, kemudian membagi pasukannya  kedalam kelompok-kelompok besar dalam suasana perang berkecamuk terus. Setiap kelompok diberinya tugas sasaran masing-masing, lalu dipergunakanlah seni Yudhanya yang membawa mukjizat, dengan kecerdikan akalnya yang luar biasa, sehingga akhirnya ia berhasil membuka jalur luas diantara pasukan Romawi. Dari jalur itulah seluruh pasukan Muslim menerobos dengan selamat. Karena prestasinya dalam perang inilah Rasulullah menganugrahkan gelar kepada Khalid bin Walid, “Si Pedang Allah yang senantiasa terhunus”.
Sepeninggal Rasulullah, wafat, Abu Bakar memikul tanggung jawab sebagai Khalifah. Dia menghadapi tantangan yang sangat besar dan berbahaya, yaitu gelombang kemurtadan yang hendak menghancurkan agama yang baru berkembang ini. Berita-berita tentang pembangkangan kaum-kaum dan suku-suku Di Jazirah Arab ini, dari waktu ke waktu semakin membahayakan. Dalam keadaan genting seperti ini, Abu Bakar sendiri maju untuk memimpin pasukan Islam. Tetapi para sahabat utama tidak sepakat dengan tindakan Abu Bakar ini. Semuanya sepakat untuk meminta Khalifah agar tetap tinggal di Madinah.
Sayyidina Ali terpaksa menghadang Abu Bakar dan memegang tali kekang kuda yang sedang di tungganginya untuk mencegah keberangkatannya bersama pasukannya menuju medan perang, sembari berkata, “Hendak kemana Engkau wahai Khalifah Rasulullah, akan kukatakan kepadamu apa yang pernah dikatakan Rasulullah di hari Uhud: “Simpanlah pedangmu wahai Abu Bakar, jangan engkau cemaskan kami dengan dirimu!”
Di hadapan desakan dan suara bulat kaum muslimin, Khalifah terpaksa menerima untuk tetap tinggal di kota Madinah. Maka setelah itu, di bagilah tentara Islam menjadi sebelas kesatuan, dengan beban tugas tertentu. Sedang sebagai kepala dari keseluruhan pasukan tersebut, diangkatlah Khalid bin Walid. Dan setelah menyerahkan bendera kepada masing-masing komandannya, Khalifah mengarahkan pandangan kepada Khalid bin Walid, sambil berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, bahwa sebaik-baik hamba Allah dan kawan sepergaulan, ialah Khalid bin Walid, sebilah pedang diantara pedang Allah yang ditebaskan kepada orang-orang kafir dan munafik…!”
Khalid pun segera melaksanakan tugasnya dengan berpindah-pindah dari suatu tempat medan tempur  ke pertempuran yang lain, dari suatu kemenangan ke kemenangan berikutnya.
Datanglah perintah dari Khalifah Abu Bakar, kepada Panglima yang tak tertandingi ini, agar berangkat menuju Yamamah untuk memerangi Bani Hanifah bersama kabilah-kabilah yang telah bergabung dengan mereka yang terdiri dari gabungan aneka ragam tentara murtad yang paling berbahaya. Pasukan ini di pimpin oleh Musalimah al-Kadzdzab..
Khalid bersama pasukannya mengambil posisi di dataran bukit-bukit pasir Yamamah, dan menyerahkan bendera perang kepada komandan-komandan pasukannya, sementara Musailamah menghadapinya dengan segala kecongkakan dan kedurhakaan bersama dengan pasukan tentaranya yang sangat banyak, seakan-akan tak akan habis-habisnya.
Di tengah pertempuran yang berkecamuk amat dahsyat ini, Khalid melihat keunggulan musuh, ia lalu memacu kudanya ke suatu tempat tinggi yang terdekat, lalu ia melayangkan pandangannya ke seluruh medan tempur. Pandangan cepat yang diliputi ketajaman dan naluri perangnya, dengan cepat ia dapat mengetahui dan menyimpulkan titik kelemahan pasukannya.
Ia dapat merasakan, ada rasa tanggung jawab yang mulai melemah di kalangan parajuritnya di tengah serbuan-serbuan mendadak pasukan Musailamah. Maka diputuskanlah secepat kilat untuk memperkuat semangat tempur dan tanggung jawab pasukan muslimin itu. Di panggilnya komandan-komandan teras dan sayap, ditertibkannya posisi masing-masing di medan tempur, kemudian ia berteriak dengan suaranya yang mengesankan kemenangan:
Tunjukkanlah kelebihanmu masing-masing…, akan kita lihat hari ini jasa setiap suku!
Orang-orang Muhajirin maju dengan panji-panji perang mereka, dan orang-orang Anshor pun maju dengan panji-panji perang mereka, kemudian setiap kelompok suku dengan panji-panji tersendiri. Semangat juang pasukannya jadi bergelora lebih panas membakar, yang dipenuhi dengan kebulatan tekad, menang atau mati syahid. Sedangkan Khalid terus menggemakan Takbir dan Tahlil, sambil memberikan komando kepada para komandan lapangannya. Dalam waktu singkat, berubahlah arah pertempuran, prajurit-prajurit pimpinan Musailamah mulai berguguran, laksana nyamuk yang meggelepar berjatuhan.
Khalid bin Walid berhasil menyalakan semangat keberaniannya seperti sengatan aliran listrik kepada setiap parajuritnya, itulah salah satu keistimewaannya dari sekian banyak keunggulannya. Musailamah tewas bersama para prajuritnya, bergelimpangan memenuhi seluruh area medan pertempuran, dan terkuburlah selama-lamanya bendera yang menyerukan kebohongan dan kepalsuan.
Selanjutnya, Khalifah Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid untuk berangkat menuju Irak, maka berangkatlah sang Mujahid ini ke Irak. Ia memulai operasi meliternya di Irak dengan mengirim surat ke seluruh Pembesar Kisra (Kaisar Persia) dan Gubernur-Gubernurnya di semua wilayah Irak.
Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Khalid Ibnu Walid kepada para pembesar Persi. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Kemudian segala puji kepunyaan Allah yang telah memporak porandakan kaki tangan kalian, dan merenggut kerajaan kalian, serta melemahkan tipu daya kalian. Siapa yang shalat seperti shalat kami, dan menghadap kiblat kami, jadilah ia seorang muslim. Ia akan mendaptkan hak seperti hak yang kami dapatkan, dan ia berkewjiban seperti kewajiban kami. Bila telah sampai kepada kalian surat ini, maka hendaklah kalian kirimkan kepadaku jaminan, dan terimalah dariku perlindungan jika tidak, maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, akan kukirimkan kepada kalian satu kaum berani mati, padahal kalian masih sangat mencintai hidup…!”
Para mata-mata yang disebarkannya ke seluruh penjuru Persia datang menyampaikan berita tentang keberangkatan pasukan bala tentara yang sangat besar yang dipersiapkan oleh panglima-panglima Persia di Irak.
Khalid tidak membuang-buang waktu, dengan cepat ia memersiapkan pasukannya untuk menghadapi pasukan Persia tersebut. Dalam perjalanan menuju Persia ini ia berhasil memperoleh kemenangan-kemenangan, mulai dari Ubullah, As-Sadir, di susul Najaf, lalu Al-Hirah, Al-Ambar, sampai Khadimiah. Di setiap tempat yang berhasil ia taklukkan ia disambut wajah berseri penduduknya, karena di bawah bendera Islam, mereka orang-orang yang lemah yang tertindas penjajah Persia, dapat berlindung dengan aman.
Rakyat yang terjajah dan lemah selama ini banyak mengalami derita perbudakan dan penyiksaan dari orang Persia. Khalid selalu berpesan dengan peringatan keras, kepada seluruh pasukannya setiap kali akan berangkat ke medan tempur:
Jangan kalian sakiti para petani, biarkanlah mereka bekerja dengan aman, kecuali bila ada yang hendak menyerang kalian, perangilah orang-orang yang memerangi kalian…”.
Kemenangan yang diraih oleh orang-orang Islam di Irak dari orang Persia menimbulkan harapan diperolehnya kemenangan yang sama pada orang Romawi di Syria. Khalifah Abu Bakar mengerahkan sejumlah pasukan dan menunjuk bebrapa orang pilihan sebagai Panglimanya, seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Amr bin Ash dan Yazid bin Abu Sufyan serta Muawiyah bin Abu Sufyan.
Pada saat balatentara Islam ini mulai bergerak, berita ini sampai kepada Kaisar Romawi. Ia menyarankan para menteri dan Jenderal-jenderalnya supaya berdamai saja dengan orang-orang Islam, dan berperang melawan mereka, karena itu hanya akan menimbulkan kerugian saja. Tetapi para menteri dan Jenderal-Jenderalnya tetap bersikeras hendak meneruskan perang sambil sesumbar: “Demi Tuhan, akan kita layani Abu Bakar itu, sampai ia tidak mampu mendatangkan pasukan berkudanya ke negeri kita ini.”
Mereka menyiapkan tidak kurang dari 240.000 tentara untuk peperangan ini. Para mata-mata pasukan tentara Islam mengirimkan gambaran tentang situasi gawat ini kepada Khalifah. Mengetahui hal itu Abu Bakar berkata, “Demi Allah, semua kekhawatiran dan keragu-raguan mereka akan kusembuhkan dengan kedatangan Khalid.”  Penyembuh kekhawatiran ini, berupa perintah berangkat ke negeri Syam kepada Khalid untuk memimpin seluruh pasukan Islam yang sudah mendahului berada di sana. Dengan sigap Khalid bin Walid melaksanakan perintah Khalifah, dan menyerahkan pimpinan pasukan di Irak kepada Mutsanna bin Haritsah, setelah semua urusannya di Irak selesai, ia segera berangkat menuju Syam.
Di medan perang, sebelum pertempuran di mulai, ia berdiri di tengah-tengah pasukannya sambil berpidato, “Hari ini adalah hari-hari Allah, tak pantas kita di sini berbangga-bangga dan berbuat durhaka….Ikhlaskanlah jihad kalian, dan harapkan Ridlo Allah dengan perangmu! Mari kita bergantian memegang pimpinan, yaitu secara bergiliran. Hari ini salah seorang memegang pimpinan, besok yang lain, lusa yang lain lagi, sehingga seluruhnya mendapat kesempatan memimpin…!”
Balatentara Romawi, jika dilihat dari besarnya jumlah tentara dan perlengkapan persenjataan yang mereka miliki, merupakan sesuatu yang sangat mendebarkan bagi siapa saja yang melihatnya. Tak diragukan lagi, bahwa pasukan Islam sebelum kedatangan Khalid bin Walid merasa gentar dan cemas serta gelisah dalam jiwa mereka. Hanya karena iman merekalah yang membuat hati mereka mantap.
Bagaimanapun hebatnya orang-orang Romawi dan balatentaranya, tapi Abu Bakar telah berkata, “Khalid yang akan menyelesaikannya…, Demi Allah, segala kekhawatiran mereka akan kulenyapkan dengan seorang Khalid! Biarkan orang-orang Romawi dengan segala kehebatannya itu datang! Bukankah bagi kaum muslimin ada tukang pukulnya?”
Khalid bin Walid membrifing komandan-komandan tentaranya, dengan mempersiapkan dan membagi-bagi pada beberapa kesatuan besar. Diaturnya langkah-langkah taktik dan strategi untuk menyerang dan bertahan, untuk menandingi taktik-taktik tentara Romawi, seperti yang telah dialaminya dari kawan-kawannya orang Persia di Irak, dengan melukiskan setiap kemungkinan dari peperangan ini.
Sebelum terjun ke kancah peperangan, ada satu hal yang sedikit menganggu pikirannya, yaitu kemungkinan sebagian anggota pasukannya yang melarikan diri, terutama mereka yang baru saja masuk Islam, setalah mereka melihat kehebatan dan keseraman tentara Romawi.
Salah satu rahasia kemenangan-kemenangan istimewa yang diraih Khalid dalam setiap pertempuran,ialah “Tsabat” artinya tetap tabah dan disiplin. Ia melihat, bahwa larinya dua tiga orang prajurit, akan menyebarkan kepanikan dan kekacauan pada seluruh kesatuan  yang akan berakibat fatal, dan ini merpakan bencana. Oleh sebab itu, tindakannya sangat tegas dan keras sekali terhadap mereka yang membuang senjata dan melarikan diri dari medan pertempuran. Maka dalam peperangan Yarmuk ini, setelah seluruh pasukannya mangambil posisi, dipanggilnya perempuan-perempuan Muslimah untuk memanggul senjata. Mereka diperintahkan untuk mengambil posisi dibelakang barisan pasukan muslimin di setiap penjuru. Khalid berpesan kepada mereka, “Siapa saja yang melarikan diri dari medan pertempuran ini, bunuh saja mereka!”
Sebelum pertempuran dahsyat itu berlangsung, Panglima tentara Romawi meminta Khalid Tampil ke depan, karena ingin berbicara dengannya. Khalid tampil ke depan sehingga mereka berdua saling berhadapan di atas punggung kuda masing-masing, di suatu tempat tanah lapang diantara kedua pasukan.
Panglima pasukan tentara Romawi yang bernama Mahan itu berkata kepada Khalid:
Kami tahu, bahwa yang mendorong kalian keluar dari negeri kalian tidak lain hanyalah karena kelaparan dan kesulitan, jika kalian setuju, saya beri dari masing-masing kalian ini 10 dinar lengkap dengan pakaian dan makanan, asalkan kalian pulang kembali ke negeri kalian. Dan di tahun yang akan datang saya akan kirimkan sebanyak itu pula……!
Mendengar itu, bukan main marahnya Khalid, tapi hal tetap ditahan, sambil menggetakkan giginya, ia menganggap suatu penghinaan dan kekurang ajaran dari panglima Romawi itu. Lalu di jawabnya dengan berucap:
Bahwa yang mendorong kami keluar dari negeri kami, bukan karena lapar seperti yang anda kira, tapi kami adalah suatu bangsa yang biasa minum darah. Dan kami sangat paham, bahwa tak darah yang lebih manis dan lebih enak dari darah orang-orang Romawi, karena itulah kami datang!”
Panglima Khalid bin Walid menggeretakkan kekang kudanya, sambil kembali ke barisan pasukannya, diangkatnya bendera tingi-tinggi sebagai tanda dimulainya pertempuran. “Allahu Akbar,……berhembuslah angin surga,” teriaknya. Di tengah-tengah poertempuran sengit itu berlangsung, ada salah seorang dari tentara muslim yang mendekati Abu Ubaidan bin Jarrah, sambil berkata, “Aku sudah bertekad untuk mati syahid, apakah anda mempunyai pesan penting yang bisa kusampaikan kepada Rasulullah saw, jika aku menemuinya nanti?” Abu Ubaidah menjawab, “Ada, sampaikan kepada beliau, Ya Rasululullah, sesungguhnya kami telah menemukan bahwa apa yang telah di janjikan Allah, memang benar!”
Setelah itu, lelaki itu pergi menyeruak ke tengah-tengah medan pertempuran dengan menyerang bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Ia menyerbu ke tengah-tengah pertempuran dahsyat, merindukan tempat peraduan, sampai akhirnya ia mati syahid. Dia adalah Ikrimah Abu jahal, anak Abu Jahal. Ia berseru kepada barisan tentara orang-orang Islam, pada saat tekanan tentara Romawi semakin berat, dengan suara lantang, dia berkata, “Sungguh aku telah lama memerangi Rasulullah di masa lalu, sebelum aku mendapat hidayah dari Allah, masuk Islam. Apakah pantas aku lari hari ini, dari musuh-musuh Allah ini?” sambil berteriak ia berseru kepada pasukan Muslim, “Siapa yang bersedia dan berjanji untuk mati?”
Sekelompok pasukan muslimin berjanji kepada Ikrimah untuk berjuang sampai mati, kemudian mereka sama-sama menyerbu ke jantung pertahanan musuh, mereka hanya mencari kemenangan, tetapi jika kemenangan itu harus ditebus dengan jiwa raganya, mereka sudah siap untuk mati syahid….. Allah menerima pengorbanan  dan bai’at mereka, mereka semuanya mati syahid.
Di tengah pertempuran sengit itu, Khalid bin Walid mengerahkan 100 orang tentaranya, tidak lebih. Mereka diperintahkan untuk bersamanya menyerbu sayap kiri pasukan tentara Romawi yang jumlahnya tidak kurang dari 40.000 orang tentara. Khalid berpesan kepada mereka,: “Demi Allah, yang diriku di tangan-Nya, tak ada lagi kesabaran dan ketabahan yang tinggal pada orang-orang Romawi, kecuali apa yang kami lihat! Sungguh, aku berharap Allah memberikan kesempatan kepada kalian untuk menebas batang-batang keher mereka…!”
Kehebatan Khalid bin Walid ini sangat mengagumkan para panglima dan komandan tentara Romawi. Hal ini mendorong salah seorang dari mereka, bernama Georgius, mengundang Khalid pada saat-saat peperangan berhenti beristirahat, untuk bercakap-cakap. Panglima Romawi itu berkata kepada Khalid:
Tuan Khalid,….jujurlah anda kepadaku, jangan berbohong, sebab orang merdeka itu tak pernah bohong! Apakah Tuhan telah menurunkan sebilah pedang kepada Nabi anda dari langit, lalu pedang itu diberikannya kepada anda, hingga setiap anda hunuskan terhadap siapapun, pedang tersebut pasti membinasakannya?” jawab Khalid, “Oh, tidak.”
Orang itu bertanya lagi, “Mengapa anda dinamakan Si Pedang Allah?” Jawab Khalid, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada kami, sebagian kami ada yang membenarkannya, dan sebagian lagi ada yang mendustakannya sehingga Allah menjadikan hati kami menerima Islam, dan memberi petunjuk kepada kami melalui Rasul-Nya, lalu kami berjanji setia kepadanya……, Rasulullah mendoakanku dan berkata kepadaku, “Engkau adalah pedang Allah diantara sekian banyak pedang-pedang-Nya.” Demikianlah, maka aku diberi julukan  pedang Allah”.
Dialog selanjutnya terjadi antara panglima itu dengan Khalid:
  • Kepada siapa anda sekalian diserunya?
  • Kepada Men-tauhid-kan Allah dan kepada Islam
  • Apakah orang-orang yang masuk Islam sekarang akan mendapatkan pahala seperti anda juga?
  • Memang, bahkan lebih……..
  • Bagaimana dapat terjadi, padahal anda telah lebih dahulu memasukinya?
  • Karena sesungguhnya kami telah hidup bersama Rasulullah dan kami telah melihat tanda-tanda Kerasulan dan mukjizatnya, dan wajar bagi setiap orang yang telah melihat seperti yang kami lihat, dan mendengar seperti yang kami dengar, akan masuk Islam dengan mudah. Adapun anda, wahai orang-orang yang belum pernah melihat dan mendengarnya, lalu anda beriman kepada yang gaib, maka pahala anda lebih berlipat ganda dan besar, bila anda membenarkan Allah dengan hati ikhlas serta niat yang suci…
Panglima Romawi itu kemudian berseru sambil memajukan kudanya ke dekat Khalid dan berdiri disampingnya “Ajarkanlah kepadaku Islam itu, wahai Khalid….! Maka setelah itu masuk islamlah si panglima itu, dan salat dua rakaat, satu-satunya salat yang sempat dilakukan, karena setelah peristiwa itu kedua pasukan mulai bertempur lagi. Panglima Romawi, Georgius, yang sekarang bertempur di pihak kaum muslimin itu, dengan matian-matian menuntut syahid, sampai ia mencapainya dan ia mendapatkannya……..
Kehidupan Khalid bin Walid adalah perang sejak lahir sampai matinya. Lingkungan, Pendidikan, pertumbuhan dan seluruh hidupnya, sebelum dan sesudah Islam, seluruhnya merupakan arena bagi seorang pahlawan Berkuda yang sangat lihai dan ditakuti
Pedangnya adalah alat yang sangat ampuh sebagai penebus masa lalunya. Pedang yang berada dalam genggaman seorang panglima berkuda seperti Khalid, dan tangan yang menggenggam pedang itu digerakkan oleh hati yang bergelora serta di dorong oleh pembelaan yang mutlak terhadap agama yang suci, sungguh amat sulit bagi pedang ini untuk melepaskan diri sama sekali dari pembawaannya yang keras dan dahsyat, dan ketajamannya yang memutus…….
Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata, “Tak ada seorang wanita pun yang akan sanggup melahirkan lagi laki-laki seperti Khalid. Ia adalah pribadi yang sering dilukiskan oleh para sahabat-sahabat maupun musuh-musuhnya, dengan: “Orang yang tidak pernah tidur, dan tidak membiarkan orang lain tidur.”
Suatu saat ia pernah berkata: “Tak ada yang dapat menandingi kegembiraanku, bahkan lebih pada saat malam pengantin, atau di saat dikaruniai Bayi, yaitu suatu malam yang sangat genting, dimana aku dengan ekspedisi tentara bersama orang-orang Muhajirin menggempur kaum musyrikin di waktu subuh.”
Ada sesuatu yang selalu merisaukan pikirannya sewaktu masih hidup, yaitu kalau-kalau ia mati di atas tempat tidur, padahal ia telah menghabiskan seluruh usianya di atas punggung kuda perang dan dibawah kilat pedangnya.
Ketika itu ia berkata: “Aku telah ikut serta berperang dalam pertempuran di mana-mana, seluruh tubuhku penuh dengan tebasan pedang, tusukan tombak serta tancapan anak panah…….kemudian inilah aku, tidak seperti yang aku inginkan, mati di atas tempat tidur, laksana matinya seekor unta.”
Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia berwasiat kepada Khalifah Umar, agar Khalifah mewakafkan harta kekayaan yang ia tinggalkan, yang berupa Kuda dan Pedangnya. Selebihnya tidak ada lagi barang berharga yang dapat dimiliki oleh orang.
Seumur hidupnya ia tak pernah dipengaruhi oleh keinginan, kecuali menikmati kemenangan dan berjaya mengalahkan musuh kebenaran.
Tak satupun kesenangan duniawi yang dapat mempengaruhi keinginan nafsunya, kecuali hanya satu, yaitu barang yang dengan sangat hati-hati sekali dan mati-matian ia menjaganya. Barang itu berupa Kopiah. Pernah suatu ketika, kopiah itu jatuh dalam perang Yarmuk. Ia bersama beberapa pasukannya dengan susah payah mencarinya. Ketika orang lain mencelanya karena itu, ia berkata, “Di dalamnya terdapat beberapa helai rambut dari ubun-ubun Rasulullah saw”.
Di saat jenazahnya di usung beberapa sahabat keluar dari rumahnya, sang ibu memandangnya dengan kedua mata yang bercahaya memperlihatkan kekerasan hati tapi disaput awan duka cita, lalu melepaskannya dengan kata-kata:
Jutaan orang tidak dapat melebihi keutamaanmu….
Mereka gagah perkasa tapi tunduk di ujung pedangmu…
Engkau pemberani melebihi Singa Betina…..
Yang sedang mengamuk melindungi anaknya……
Engkau lebih dahsyat dari air bah…..
Yang terjun dari celah bukit curam ke lembah……
Rahmat Allah bagi Abu Sulaiman,
Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada yang ada di dunia.
Ia hidup terpuji, dan berbahagia setelah mati…..


Sejarah Nusaibah : ibu para Syuhada



Hari itu Nusaibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. "Suamiku tersayang," Nusaibah berkata, "aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang."

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

"Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang...."

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

"Ibu, salam dari Rasulullah," berkata si penunggang kuda, "Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid..."

Nusaibhah tertunduk sebentar, "*Inna lillah*....." gumamnya, "Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, "Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan bagi para pejuang Nabi.
Maukah engkau melihat ibumu bahagia?"

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

"Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi."

Mata amar bersinar-sinar. "Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah."

Putra Nusaibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. "Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur."

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. "Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu...."

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nusaibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, "Ada kabar apakah gerangan kiranya?" serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, "apakah
anakku gugur?"

Utusan itu menunduk sedih, "Betul...."

*Inna lillah*...." Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.

"Kau berduka, ya Ummu Amar?"

Nusaibah menggeleng kecil. "Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak."

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, "Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani."

Nusaibah terperanjat. Ia memandangi putranya. "Kau tidak takut, nak?"

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, "Allahu akbar!"

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah. Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu kuduknya. "Hai utusan," ujarnya, "Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang."

Sang utusan mengerutkan keningnya. "Tapi engkau perempuan, ya Ibu...."

Nusaibah tersinggung, "Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?"

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. "Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan
mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur."

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nusaibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai
singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nusaibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas'ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas'ud mengenalinya,

"Istri Said-kah engkau?"

Nusaibah samar-samar memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, "bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?"


"Beliau tidak kurang suatu apapun..."


Kisah Sahabat : Salman Al farizi

Dari Abdullah bin Abbas Radhiallaahu ‘anhu berkata, “salman Al farizi  menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, ‘Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian, aku seperti seorang budak saja.
Aku dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sehingga aku sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam.
Ayahku memiliki tanah perahan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk mengurus bangunan. Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, hari ini aku sibuk di bangunan, aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi ke sana!’ Beliau menyuruhku melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
Aku keluar menuju tanah ayahku. Dalam perjalanan aku melewati salah satu gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka yang sedang sembahyang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahku mengharuskan aku tinggal di dalam rumah saja (melarang aku keluar rumah).
Tatkala aku melewati gereja mereka, dan aku mendengar suara mereka sedang shalat maka aku masuk ke dalam gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan?
Begitu aku melihat mereka, aku kagum dengan shalat mereka, dan aku ingin mengetahui peribadatan mereka. Aku berkata dalam hati, ‘Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut selama ini.’
Demi Allah, aku tidak beranjak dari mereka sampai matahari terbenam. Aku tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Dari mana asal usul agama ini?’ Mereka menjawab, ‘Dari Syam (Syiria).’
Kemudian aku pulang ke rumah ayahku. Padahal ayahku telah mengutus seseorang untuk mencariku. Sementara aku tidak mengerjakan tugas dari ayahku sama sekali. Maka ketika aku telah bertemu ayahku, beliau bertanya, ‘Anakku, ke mana saja kamu pergi?
Bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang aku perintahkan itu?’ Aku menjawab, ‘Ayah, aku lewat pada suatu kaum yang sedang sembahyang di dalam gereja, ketika aku melihat ajaran agama mereka aku kagum. Demi Allah, aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam.’
Ayahku menjawab, ‘Wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikitpun dalam agama itu. Agamamu dan agama ayahmu lebih bagus dari agama itu.’ Aku membantah, ‘Demi Allah, sekali-kali tidak! Agama itu lebih bagus dari agama kita.’ Kemudian ayahku khawatir dengan diriku, sehingga beliau merantai kakiku, dan aku dipenjara di dalam rumahnya.
Suatu hari ada serombongan orang dari agama Nasrani diutus menemuiku, maka aku sampaikan kepada mereka, ‘Jika ada rombongan dari Syiria terdiri dari para pedagang Nasrani, maka supaya aku diberitahu.’ Aku juga meminta agar apabila para pedagang itu telah selesai urusannya dan akan kembali ke negrinya, memberiku izin bisa menemui mereka.
Ketika para pedagang itu hendak kembali ke negrinya, mereka memberitahu kepadaku. Kemudian rantai besi yang mengikat kakiku aku lepas, lantas aku pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syiria.
Sesampainya aku di Syiria, aku bertanya, ‘Siapakah orang yang ahli agama di sini?’ Mereka menjawab, ‘Uskup (pendeta) yang tinggal di gereja.’ Kemudian aku menemuinya. Kemudian aku berkata kepada pendeta itu, ‘Aku sangat mencintai agama ini, dan aku ingin tinggal bersamamu, aku akan membantumu di gerejamu, agar aku dapat belajar denganmu dan sembahyang bersama-sama kamu.’ Pendeta itu menjawab, ‘Silahkan.’
Maka akupun tinggal bersamanya.
Ternyata pendeta itu seorang yang jahat, dia menyuruh dan menganjurkan umat untuk bersedekah, namun setelah sedekah itu terkumpul dan diserahkan kepadanya, ia menyimpan sedekah tersebut untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada orang-orang miskin, sehingga terkumpullah 7 peti emas dan perak.
Aku sangat benci perbuatan pendeta itu. Kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani pun berkumpul untuk mengebumikannya. Ketika itu aku sampaikan kepada khalayak, ‘Sebenarnya, pendeta ini adalah seorang yang berperangai buruk, menyuruh dan menganjurkan kalian untuk bersedekah. Tetapi jika sedekah itu telah terkumpul, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri, tidak memberikannya kepada orang-orang miskin barang sedikitpun.’
Mereka pun mempertanyakan apa yang aku sampaikan, ‘Apa buktinya bahwa kamu mengetahui akan hal itu?’ Aku menjawab, ‘Marilah aku tunjukkan kepada kalian simpanannya itu.’ Mereka berkata, Baik, tunjukkan simpanan tersebut kepada kami.’
Lalu Aku memperlihatkan tempat penyimpanan sedekah itu. Kemudian mereka mengeluarkan sebanyak 7 peti yang penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka menyaksikan betapa banyaknya simpanan pendeta itu, mereka berkata, ‘Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburnya.’ Kemudian mereka menyalib pendeta itu pada tiang dan melempari jasadnya dengan batu.
Kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tidak mengerjakan shalat lima waktu (bukan seorang muslim) yang lebih bagus dari dia, dia sangat zuhud, sangat mencintai akhirat, dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintainya dengan cinta yang tidak pernah aku berikan kepada selainnya. Aku tinggal bersamanya beberapa waktu.
Kemudian ketika kematiannya menjelang, aku berkata kepadanya, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersamamu, dan aku sangat mencintaimu, belum pernah ada seorangpun yang aku cintai seperti cintaku kepadamu, padahal sebagaimana kamu lihat, telah menghampirimu saat berlakunya taqdir Allah, kepada siapakah aku ini engkau wasiatkan, apa yang engkau perintahkan kepadaku?’
Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi siapa yang mempunyai keyakinan seperti aku.
Orang-orang yang aku kenal telah mati, dan masyarakatpun mengganti ajaran yang benar dan meninggalkannya sebagiannya, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (kota di Irak), yakni Fulan, dia memegang keyakinan seperti aku ini, temuilah ia di sana!’
Lalu tatkala ia telah wafat, aku berangkat untuk menemui seseorang di Mosul. Aku berkata, ‘Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dia memberitahuku bahwa engkau memiliki keyakinan sebagaimana dia.’
Kemudian orang yang kutemui itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku. Aku pun hidup bersamanya.’ Aku dapati ia sangat baik sebagaimana yang diterangkan Si Fulan kepadaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Dan ketika kematian menjelang, aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Fulan, ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi, oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?’
Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperti aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!’
Maka setelah beliau wafat, aku menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah aku bertemu dengannya, aku menceritakan keadaanku dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadaku.
Orang itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’ Sekarang aku mulai hidup bersamanya. Aku dapati ia benar-benar seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.
Namun, kematian hampir datang menjemputnya. Dan di ambang kematiannya aku berkata, ‘Wahai Fulan, Ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, dan kemarin Fulan mewasiatkan aku kepadamu? Sepeninggalmu nanti, kepada siapakah aku akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’
Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tidak ada seorangpun yang aku kenal sehingga aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di Amuria (kota di Romawi). Orang itu menganut keyakinan sebagaimana yang kita anut, jika kamu berkenan, silahkan mendatanginya. Dia pun menganut sebagaimana yang selama ini kami pegang.’
Setelah seseorang yang baik itu meninggal dunia, aku pergi menuju Amuria. Aku menceritakan perihal keadaanku kepadanya. Dia berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’
Akupun hidup bersama seseorang yang ditunjuk oleh kawannya yang sekeyakinan.
Di tempat orang itu, aku bekerja, sehingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah pun berlaku untuknya. Ketika itu aku berkata, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama si Fulan, kemudian dia mewasiatkan aku untuk menemui Si Fulan, kemudian Si Fulan juga mewasiatkan aku agar menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkan aku untuk menemuimu, sekarang kepada siapakah aku ini akan engkau wasiatkan?dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’
Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!’
Kemudian orang inipun meninggal dunia. Dan sepeninggalnya, aku masih tinggal di Amuria sesuai dengan yang dikehendaki Allah.
Pada suatu hari, lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, ‘Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka.
Mereka membawaku, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzha-limiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi.
Kini aku tinggal di tempat seorang Yahudi. Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan kepadaku. Aku tidak biasa hidup bebas.
Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. Ia membeliku darinya. Kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebutkan si Fulan kepadaku. Sekarang aku tinggal di Madinah.
Allah mengutus seorang RasulNya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah mendengar ceritanya karena kesibukanku sebagai seorang budak. Kemudian Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah, ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku bekerja di perkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, ‘Fulan,
Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini sedang berkumpul di Quba’ menyambut seseorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi.’
Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, ‘Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan?’ Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, ‘Apa urusanmu menanyakan hal ini, Lanjutkan pekerjaanmu.’
Aku menjawab, ‘Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan. Padahal sebenarnya saya telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang nabi itu.’
Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian aku menuju Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, ‘Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.’
Aku pun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, ‘Silahkan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, ‘Ini satu tanda kenabiannya.’
Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, aku mendatangi beliau sambil berkata, ‘Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepada engkau.’
Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pemberianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, ‘Inilah tanda kenabian yang kedua.’
Selanjutnya aku menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berada di kuburan Baqi’ al-Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat cincin yang disebutkan Si Fulan kepadaku.
Pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.
Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Geserlah kemari,’ maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu.”
Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. “Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam suatu hari bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!’ Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam mengumpulkan para sahabat dan bersabda, ‘Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.’ Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.
Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku.’ Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam dan memberitahukan perihalku. Kemudian Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.
Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas beliau bersabda, ‘Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?’ Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, ‘Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!’
Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, ‘Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya.’ Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.
Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.”


Ibnul Khattab: Khalid bin walid abad 20



“Hanya satu yang menghalangi seorang Muslim berjihad di jalan Allah: sifat pengecut !”

Saat menulis bagian ini, hati saya sungguh seperti dihantam-hantam­ palu cemburu. Saya begitu iri setelah mengetahui lebih jauh sosok kita yang satu ini. Batapa tidak, cintanya pada jihad telah membuatnya seperti memburu kematian, di saat manusia lainnya justru ketakutan. Di mana bumi Allah bergolak, ia selalu menyematkan namanya sebagai salah satu pejuang.

Sungguh, bagaimana tidak iri. Ia telah matang dalam medan perjuangan. Dihibahkannya seluruh hidupnya demi memperjuangkan ummat Islam di tanah-tanah yang penuh kezhaliman. Dan saat ia terjun ke medan jihad pertamanya, usianya belum genap 17 tahun. Saat teman-teman seumurnya masih terlena dengan keindahan dunia, ia sudah tahu betul bahwa syahid adalah jalan paling indah menuju surgaNya.

Ibnul Khattab adalah julukannya di medan perang. Nama sesungguhnya adalah Samir Saleh Abdullah Al Suwailim. Putra jazirah Arab yang datang dari keluarga mulia. Saat itu, kala usianya beranjak dari masa yang lazim disebut remaja, ia tengah mempersiapkan perjalanannya menuju Amerika Serikat. Namanya telah terdaftar di salah satu sekolah di negeri yang kelak menjadi musuh utamanya tersebut.

Namun tahun-tahun itu, panggilan jihad dari Afghanistan terdengan bertalu-talu. Asy Syahid (kama nahsabuhu, red) Syaikh Abdullah Azzam menyeru pemuda-pemuda Islam di manapun untuk datang dan menyumbangkan tenaga, darah, bahkan nyawa bagi tanah Afghanistan yang dijajah Uni Soviet. Pada awalnya, Ibnul Khattab hanya berniat melawat dalam hitungan sekejap ke bumi jihad itu, tapi rupanya, lawatannya itu ternyata adalah lawatan sepanjang hidup. Lawatan yang membuatnya terpisah dari orang tua dan keluarga.

Jiwanya begitu terbakar oleh api jihad. Saat tiba di Afghanistan, ia hanya seorang anak kecil yang mentah, tapi kesaksian mujahidin menyebutkan di matanya nampak api yang menyala-nyala. Kamp-kamp jihad Afghanistan kala itu setiap harinya selalu penuh dengan orang-orang yang berbeda-beda. Satu kelompok datang, satu kelompok pergi ke garis depan. Satu kelompok untuk persiapan dan latihan. Satu kelompok lagi memikul senjata maju menghadang.

Saat tiba di Afghanistan, ia hanya seorang anak kecil yang mentah, tapi kesaksian mujahidin menyebutkan di matanya nampak api yang menyala-nyala.

Setiap kelompok yang baru datang, wajib mengikuti latihan, persiapan, dan pembekalan. Tidak saja secara fisik, tapi terlebih lagi secara ruhiyah. Para mujahid harus matang, luar dan dalam, sebelum ia bertempur ke medan perang. Itulah yang dilakukan orang-orang yang hendak berjuang di Afghanistan. Tak terkecuali Ibnul Khattab muda.

Ia harus melewati fase yang sama. Namun, rupanya tak sabar hati Khattab muda untuk berjuang. Berkali-kali ia merayu komandan-komand­an kamp latihan agar mendaftarkan namanya maju ke garis depan. Semua orang tersenyum, anak semuda ini, kumis pun belum tumbuh. Maka Ibnul Khattab pun harus bersabar menyelesaikan masa persiapan diri walaupun jiwanya meronta-ronta untuk berlari paling depan membela agama Islam.

Hanya dalam hitungan tahun, Ibnul Khattab menjadi seorang mujahid yang namanya begitu masyhur di kalangan mujahidin lainnya. Namanya tercantum dalam semua operasi utama mujahidin Afghanistan melawan tentara komunis Uni Soviet. Musuh yang dihadapinya, mulai dari tentara biasa, sampai pasukan komando khusus dengan persenjataan lengkap.

Ia tak takut mati. Tak kenal jeri, bahkan nyaris tak punya rasa sakit dan letih. Suatu ketika, tubuhnya tertembus peluru berdiameter 12,7 milimeter. Biasanya, peluru ini digunakan untuk menghadapi kendaraan lapis baja, tapi dengan izin Allah, Ibnul Khattab bertahan dengan rasa sakit yang tak dihiraukannya. Suatu hari ia memasuki tenda dalam keadaan terluka. Wajahnya pucat, dan seluruh teman-teman yang melihatnya merasa khawatir dan bertanya,
“Apakah engkau cedera ?”

Ibnul Khattab hanya menjawab ringan,
“Biasa, luka ringan. Tak perlu dikhawatirkan.”

Meski didesak, ia hanya mengatakan luka di perutnya hanya luka yang tak serius untuk jihad yang besar ini. Kawan-kawannya pun memaksa memeriksa luka yang diderita Ibnul Khattab. Rupanya, ia mengalami pendarahan hebat dan harus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, di dalam mobil, ia selalu berusaha meyakinkan teman-temannya,
“Ini hanya luka ringan, tak serius. Esok hari juga sudah tak terasa lagi.”

Ia berkali-kali meminta, agar tak dijauhkan dari medan jihad yang mulia. Begitulah keteguhan dan ketegaran seorang Ibnul Khattab, putra jazirah Arab yang memuliakan perjuangan agamanya.

Hari terus berganti. Tahun pun berlalu. Karena Afghanistan, para mujahidin, dan tentu saja dengan izin Allah, keruntuhan Uni Soviet bermula. Negara adidaya itu beringsut mundur teratur dari bumi jihad Afghanistan. Tetapi berhenti dari Afghanistan, ternyata bukan berarti Uni Soviet berhenti menjajah. Mereka menyerang dan mencaplok negeri Islam lainnya, Tajikistan di Asia Selatan. Mendengar berita ini, seolah ringan saja kakinya melangkah, Ibnul Khattab mengumpulkan beberapa orang temannya, membawa perbekalan seadanya dan terus berjalan memburu syahid di Tajikistan.

Ia menyiapkan perjalanannya ke Tajikistan; membeli senjata, alat komunikasi, dan juga kendaraan. Setelah semua terkumpul, bukan hal mudah untuk menuju Tajikistan. Ibnul Khattab menulis dalam buku hariannya bahwa menyeberangi sungai Jeihun adalah perjuangan tersendiri. Di Tajikistan pada awalnya Ibnul Khattab melatih pemuda-pemuda dan para mujahidin pemula sebanyak 100 sampai 120 orang. Lambat laun di bawah bimbingannya, jumlah mujahidin terus bertambah.

Tak lama setelah perang Tajikistan, Uni Soviet benar-benar runtuh. Dan sebagai gantinya, tumbuhlah Rusia sebagai penjajah baru. Runtuhnya Uni Soviet membuat negara-negara yang dulu berada di bawah kekuasaannya memutuskan untuk berjuang dan meraih kemerdekaannya sendiri. Satu di antara negeri-negeri itu adalah Chechnya. Pada awalnya tak banyak orang yang mengetahui bahwa negeri yang sedang berjuang melepaskan diri dari Rusia itu adalah negeri Islam. Suatu hari, tanpa sengaja Ibnul Khattab menyaksikan lewat televisi satelit dari Afghanistan, orang-orang Chechnya yang sedang bertempur melawan tentara Rusia. Satu di antara mereka yang berperang, dilihatnya memakai ikat kepala dengan tulisan Laa ilaaha ilallaah. Tanpa pikir panjang, Ibnul Khattab lalu mengangkat senjata dan mencari jalan untuk berjuang bersama-sama mujahidin Chechnya.

Tahun 1995, adalah tahun pertama kali ia menginjakkan kaki di bumi jihad Chechnya. Ia selalu mencintai di mana pun tanah jihad dipijaknya. Ia tak pernah membedakan suku, warna kulit, atau bentuk dan cirri fisik. Di manapun, setiap ia mendengar nasib kaum Muslimin, hatinya selau tergerak untuk membela. Bersama beberapa orang yang sejak dari Afghanistan setia menyertainya, ia terjuan secara mendalam pada jihad Chechnya.

Ketika memasuki wilayah Chechnya, ia mendapati pemandangan yang sangat memukau hatinya. Ia menemui anak-anak muda yang berjuang tak pernah lupa dan lalai menegakkan shalat dan menajga ibadah-ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah.

“Kami masuk ke Chechnya dan menemui anak-anak muda yang menjaga shalat mereka. Mereka berkomitmen untuk berjihad di jalan Allah. Saya dibuat terheran-heran,­ demi Allah saya sampai menangis menyaksikannya.­" tutur Khattab mengenang perjalanan awalnya dalam jihad Chechnya.

Hanya dalam satu tahun, namanya sudah masuk menjadi target utama yang harus didapatkan oleh Rusia. Pasalnya, pada tahun 1996, tepatnya 16 April, Ibnul Khattab dan kelompoknya melakukan operasi gerilya yang disebut sebagai Operasi Shatoi. Dalam operasi ini, Ibnul Khattab dan pasukannya menyergap konvoi kendaraan tentara Rusia yang berjumlah tak kurang dari 50 kendaraan berat dari perjalanan setelah menghancurkan sebuah perkampungan Muslim. Seluruh kendaraan tersebut berhasil dimusnahkan oleh Ibnul Khattab dan pasukannya.

Dalam serangan ini, Rusia kehilangan 223 pasukannya termasuk 26 perwira tinggi yang memimpin konvoi. Boris Yeltsin yang kala itu memimpin Rusia marah besar dan memecat dua orang jenderalnya yang dianggap tidak becus. Setelah itu, Boris Yeltsin pun mengumumkan oparasi militer untuk wilayah Chechnya di depan anggota parlemennya. Sejak saat itu pula Ibnul Khattab menjalani persahabatan dengan Syamil Basayev, salah seorang tokoh pejuang Chechnya yang sangat legendaris di mata para mujahidin di wilayah pegunungan Kaukakus.

Ketika kondisi di Chechnya agak mereda dan mulai dibentuk pemerintahan independen, saat itu Syamil Basayev mencalonkan diri sebagai presiden dan pemerintahan baru Chechnya menganugrahinya­ sebuah bintang penghargaan sebgai salah satu pahlawan Chechnya. Bahkan ia diangkat sebagai salah satu jenderal tertingggi di dalam struktur militer Chechnya.

Pada periode inilah, ketika Chechnya sedikit damai sehingga tekanan Rusia mulai mereda, Ibnul Khattab melangsungkan pernikahan dengan Muslimah setempat. Tak hanya Khattab, tapi juga mujahidin-mujah­idin lainnya melakukan hal yang sama, melengkapi setengah dari urusan agama mereka. Fenomena ini menandakan bahwa hati Ibnul Khattab telah jatuh cinta pada jihad, dan ia juga sangat mencintai Chechnya, tanah kaum Muslimin yang diperkosa oleh Rusia.

Suatu ketika, ia pernah menjumpai seorang nenek yang sudah sangat renta. Nenek tersebut mendatangi kamp-kamp pelatihan mujahidin dan menemui Ibnul Khattab. Kepada Ibnul Khattab sang nenek berkata,
“Saya hidup sudah sangat lama. Saya ingin hidup tenang, terlepas dari Rusia, bisa menjalankan dan menegakkan hukum-hukumNya.­ Kami tak ingin hidup dijajah Rusia.”

“Lalu apa yang bisa nenek sumbangkan untuk mujahidin yang sedang memperjuangkan cita-cita itu ?” tanya Ibnul Khattab.

“Aku tak memiliki apapun untuk disumbangkan kepada para pejuang. Aku hanya memiliki jaket yang aku pakai ini, dan akan aku berikan kepada mujahidin yang berjuang di jalan Allah.”

Lalu sang nenek melepaskan jaket dan mengulurkannya pada Ibnul Khattab.

Lelaki kekar berambut ikal itu pun terisak menangis karena terharu. Dan sejak saat itu, ia berjanji tak akan meninggalkan para mujahidin Chechnya berjuang sendirian tanpanya. Karenanya, para mujahidin Chechnya menjulukinya Khalid bin Walid abad ini.

Hanya saja, kondisi aman dan damai di Chechnya tak bertahan lama. Campur tangan dan usaha untuk mencaplok Chechnya kembali dilakukan oleh Rusia saat Aslan Maskhadov memimpin negara yang masih sangat muda tersebut.

Sejak awal Ibnul Khattab percaya bahwa kekuatan media memainkan peranan penting dalam setiap peperangan. Ia bisa mempengaruhi musuh dan juga bisa membangkitkan semangat kawan. Berbekal pengalamannya di berbagai medan jihad, Khattab mempelopori pendokumentasia­n semua serangan militer di Chechnya. Hal tersebut adalah salah satu jasa Khattab yang sangat besar bagi perjuangan Muslim Chechnya yang akhirnya memberi inspirasi dan membangkitkan kekuatan orang-orang yang berjihad di jalanNya.

Tak hanya untuk kepentingan strategi dan perjuangan, film-film dan gambar yang ia abadikan juga dikirimnya pada keluarga nun jauh di Arab Saudi untuk mengobati rindu. Ayahnya yang melihat video-video kiriman anaknya, merasa begitu kagum sekaligus gembira. Dan dengan bangganya sang ayah berkata,
“Dia bodoh jika ingin pulang !”

Berbeda dengan sang ayah, ibunda tercinta setiap kali Ibnul Khattab menelpon selalu meminta untuk pulang dan kembali ke rumah.

“Rasa cinta kepada keluarga adalah penghalang paling besar untuk orang-orang yang akan berangkat berjihad. Meski saya sudah tak pulang selama 12 tahun, setiap kali menelepon ibu, ibu selalu meminta saya untuk kembali pulang. Kalau saya pulang, siapa yang akan membantu perjuangan orang-orang ini, siapa yang akan meneruskan perjuangan kaum Muslimin ?!” ujarnya dengan ketetapan hati.

Dalam sebuah kalimat yang sangat tegas dan indah, Ibnul Khattab mengatakan tentang orang-orang yang takut berjihad di jalan Allah.
“Hanya satu yang menghalangi seorang Muslim berjihad di jalan Allah: sifat pengecut !”

Tak salah yang ia katakan, hanya orang-orang pengecut saja yang mengingkari kemuliaan jihad. Cita-citanya, selain syahid, ternyata tak muluk-muluk. Ibnul Khattab ingin terus berjuang menentang Rusia sampai tentara-tentara­ Beruang Merah itu mengangkat kaki dari tanah negeri-negeri kaum Muslimin.

“Kita mengenal Rusia dan tahu taktik mereka. Kita tahu kelemahan dan mental mereka. Karena itu, lebih mudah bagi kita untuk mengalahkan mereka, “ ujar Ibnul Khattab suatu ketika.

Lelaki ini kehilangan dua jari tangan kanannya di Tajikistan, saat ia melempar bom tangan yang ternyata meledak lebih dulu dan mebuat jari-jarinya hancur. Saat jari-jarinya hancur, ia hanya mengolesinya dengan sedikit madu dan membalutnya dengan kain. Jari-jari yang ia banggakan sebagai saksi bahwa ia telah berjuang di jalan Allah. Begitu juga nama yang ia sandang, Ibnul Khattab yang artinya dalah anak-anak Khattab. Mungkin saja ini ia ambil dari nama sekolah dasarnya di kota Tsuqbah, Sekolah Dasar Umar bin Khattab. Ia bangga dengan nama itu, sebuah penanda tentang keberanian dan keteguhan jiwa.

Ia seorang anak yang sangat cerdas. Cita-citanya menjadi seorang doktor. Ia selalu menulis cita-citanya tersebut dalam buku harian. Cita-cita demi cita-cita yang ternyata tak satu pun pernah dinikmatinya karena ia lebih menikmati panggilan jihad yang ternyata jauh lebih nikmat dari sekedar cita-cita yang hanya berbentuk gelar doktor semata.

Tak hanya di Chechnya ia mengobarkan semangat jihad, tapi juga di Dagestan, sebuah daerah yang ingin merdeka dari cengkraman penjajahan. Dagestan adalah sebuah daerah yang hampir sama dengan Chechnya, mayoritas penduduknya adalah kaum Muslimin. Namun, pemerintahan yang mengatur wilayah ini adalah rezim zhalim yang didukung Rusia untuk berbuat sewenang-wenang­ pada rakyatnya. Pencurian merajalela, suap dan laku bejat lainnya sungguh subur tak terkira. Rakyat yang sudah muak akhirnya bertindak. Mereka bersatu mengusir pemerintahan setempat dan mengambil alih kekuasaan. Menerapkan hukum Islam dan mengembalikan keamanan. Hanya dalam waktu singkat, kondisi meningkat sangat baik. Perekonomian bergerak, dan yang lebih penting lagi, ibadah dapat tegak. Melihat perkembangan yang positif ini, banyak wilayak lain melakukan hal yang sama, mereka mengusir pemerintahan lokal dan menggantikannya­ dengan hukum Islam.

Namun barisan kelompok sakit hati, yang terusir dari kekuasaannya tak rela begitu saja. Mereka meminta bantuan kepada Rusia untuk menurunkan kekuatan militer guna menekan kekuasaan Islam yang mulai berkembang. Karenanya, Rusia pun dengan senang hati melakukan pembantaian demi pembantaian. Mengahadapi tekanan yang seperti ini, rakyat dan pimpinan kaum Muslimin di Dagestan mengirimkan permintaan kepada mujahidin di Chechnya untuk membantu perjuangan mereka. Dan permintaan ini disambut dengan suka cita oleh dua sahabat dalam jihad, Ibnul Khattab dan Syamil Basayev.

Setelah melalui dewan pertimbangan, Majelis Syura Mujahidin yang dipimpin oleh Asy Syahid (kama nahsabuhu, red) Syaikh Abu Umar Asy Syaif, seorang murid dari Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, Ibnul Khattab ditunjuk sebagai pemimpin ekspedisi militer menuju Dagestan pada Desember 1997. Dengan izin Allah, mujahidin berhasil memukul mundur tentara Rusia dari Dagestan. Namun perang mamang tak pernah mudah. Dan satu perang, tak akan pernah selesai, kecuali menyulut peperangan lainnya. Setelah Dagestan, Rusia pun kembali melancarkan serangannya ke Chechnya. Periode ini lebih dikenal dengan Perang Chechnya II.

Dalam perang Chechnya periode kedua inilah, Ibnul Khattab menemui syahidnya. Ia tidak tertembus peluru, ia tidak terserang bom, tapi Rusia dengan keji mengirimkan penyusup ke dalam tubuh pasukan Mujahidin dan meracuni Ibnul Khattab. Ia dibunuh melalui surat yang telah dilumuri racun oleh seorang kurir yang telah direkrut menjadi agen FSB dan mendapatkan imbalan yang sangat besar. Kurir jahannam itu membubuhkan racun pada surat yang dikirim oleh salah seorang komandan mujahidin dan ditujukan kepada Ibnul Khattab. Maret 2002, Ibnul Khattab berpulang ke Rahmatullah. Umurnya belum genap 33 tahun, dan dari umur yang sangat singkat itu, hampir setengah usianya dihabiskan di medan jihad membela agama Allah dan kepentingan kaum Muslimin.

Setelah ia berpulang, di buku hariannya ditemukan puisi kecil yang seolah memprediksi akhir perjalanan hidupnya. Dalam puisinya Ibnul Khattab menuliskan:

Setetes saja racun, akan membunuhmu
Membuatmu tak berdaya melakukan apapun
Kehidupan adalah perjuangan
Dan perjuangan akan menyelamatkanmu­ dari tetesan itu
Tetapi kita tetap menuju fana’
Maka pilihlah jalan yang paling mulia untuk kematian
Jalan yang membawa kemuliaan di surga
Dan jangan sampai kau mati karena urusan dunia
Yang tentu akan melemparkanmu ke neraka

Ibnul Khattab memang telah tiada, tapi seluruh dunia akan mengenangnya sebagai seorang mujahid, sebagai seorang lelaki yang begitu merindukan surga. Selamat jalan manusia perindu surga.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”
(QS Ali 'Imraan [3]: 169-171)



 
Copyright 2010 skooplangsa. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog