Who Else Wants to Learn Arabic So They Can Speak Arabic Confidently and Naturally?

Laman

Mohammad Natsir pejuang Indonesia yang anti Demokrasi dan sekulerisme.

Pejuang yang gigih menyuarakan Islam sebagai alternatif. Sejak dini telah mengingatkan bahaya sekulerisme. Melalui kacamata Islam, ia mengupas peradaban, dengan prinsip Islam pula ia mempraktikkannya dalam berpolitik.

NAMA lengkapnya Mohammad Natsir (lahir di Alahan Panjang, Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908).Dikenal dengan sebutan Pak Natsir, adalah anak dari pasangan Idris Sutan Saripo-Khadijah. Di usia 8 tahun, Natsir sudah memasuki HIS (Hollandse Inlandse School) di kota Padang. Tapi, ia hanya beberapa bulan di HIS swasta yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad, seorang Pembaharu di Padang. Oleh ayahnya, Natsir dipindahkan ke HIS pemerintah di kota Solok. Sistem pendidikan di sini murni bermuatan Barat.
Pada tahun 1923, Natsir lulus dari HIS. Ia lalu pergi ke kota Padang dan melanjutkan ke MULO (Midlebare Uitgebreid Larger Onderwys). Untuk menjadi pelajar di MULO, di masa itu, sedikitnya memenuhi beberapa persyaratan. Ia mestilah seorang anak yang punya kemampuan intelektual memadai, mampu berbahasa Belanda, dan biasanya anak orang terpandang. Bagi kalangan bumiputera, masuk MULO adalah sesuatu yang patut dibanggakan secara intelektual. Ketika di MULO inilah Natsir mengenal Jong Islamieten Bond cabang Padang yang waktu itu diketuai oleh Sanusi Pane (belakangan dikenal sebagai seorang sastrawan).
Usai menamatkan MULO, pada tahun 1927 Natsir pergi ke Bandung dan melanjutkan pendidikan formalnya di AMS (Algemene Middlebare School). Di sinilah Natsir mulai berkenalan dengan pergaulan yang lebih meluas. Baik pergaulan fisik dengan multi etnis muapun secara intelektual dengan beragam pemikiran yang berkembang waktu itu. Di AMS ini pula Natsir mendapat nilai tertinggi dalam bahasa Latin: 10. Dengan bekal kemampuannya berbahasa asing, seperti Arab, Belanda, Jerman, Inggris, Latin, dan Perancis, Natsir bisa mengakses ilmu pengetahuan dengan basis bahasa-bahasa tersebut. Karena itu, di usianya yang masih belia, 21 tahun, Natsir sudah fasih menjelaskan peradaban dunia yang berbasis pada Islam, Romawi-Yunani, dan Barat.
Ketika di AMS Bandung inilah Natsir mengenal Ahmad Hassan, seorang tokoh Islam yang bergiat di Persis. Tokoh lain, seperti Haji Agus Salim dan Ahmad Soorkati, juga dikenalnya dengan baik. Di Persis, Natsir menjadi anggota redaksi dari majalah tengah bulanan Pembela Islam. Majalah Pembela Islam yang terbit sejak 1929 itu akhirnya dilarang terbit oleh pemerintahan kolonial pada tahun 1935 karena dianggap menyerang misi Kristen di Indonesia.
Natsir belajar politik pada Haji Agus Salim, sedangkan pada Ahmad Hassan ia belajar menulis dan berargumentasi. Tapi, Natsir sebenarnya adalah seorang pendidik. Dalam pandangannya, untuk mendidik bangsa ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan cara mendidik dan memberi keteladanan. Karena itu, tulisan-tulisannya tentang pendidikan tak sedikit jumlahnya.
Ia juga menggagas berdirinya Sekolah Tinggi Islam (STI).Di jaman Jepang pula, oleh sebuah panitia yang dipimpin oleh Mohammad Hatta, STI berdiri. Dan Natsir, oleh Bung Hatta, diminta untuk mengurusi STI. Juni 1945 surat dilayangkan Hatta ke Bandung, ke alamat Natsir. Kontan saja Natsir menyambutnya dengan antusiasme. Natsir pergi ke Jakarta, padahal ia baru saja diterima bekerja di Kantor Urusan Agama setempat. Rupanya STI tak bertahan lama. Agustus 1945 Jepang menyerah, dan pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Natsir terlibat aktif dalam perjuangan mencapai dan mempertahankan kemerdekan RI.
Ketika Sutan Syahrir duduk sebagai Perdana Menteri, ia memerlukan figur Islam yang bisa mensosialisasikan program-program kabinetnya. Maka dipilihlah Natsir sebagai menteri penerangan. Dialah menteri penerangan pertama di republik ini. Jabatan sebagai menteri penerangan ia pegang sebanyak tiga kali, dua kali dalam kabinet Syahrir, satu kali dalam kabinet Hatta.
Islam dan Negara
Pada tahun 1940-an, Natsir pernah terlibat polemik dengan Soekarno, tentang agama dan negara. Menurut Soekarno, agama mesti dipisahkan dari negara. Ia berpendapat, dengan mengutip, di antaranya adalah Syeikh Ali Abdur Raziq, seorang ulama dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, bahwa dalam Al-Quran dan sunnah maupun ijma ulama, tidak ada keharusan adanya bersatunya negara dengan agama. Soekarno lalu menengok ke Turki, dimana Mustafa Kemal Attartuk memisahkan agama dari negara. Dan, menurut Soekarno, karena itu Turki bisa maju.
Tapi, bagi Natsir, pemikiran Soekarno itu keliru. Menurutnya, agama, dalam hal ini Islam, tak bisa dipisahkan dari agama. Urusan negara, adalah bagian dari menjalankan perintah Allah. Ia lalu mengutip Al-Quran surah 51 ayat 56, “Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi padaKu.” Bagi natsir, negara bukanlah segala-galanya. Ia hanya merupakan alat untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya.
Tentang menyatunya agama dengan negara, Natsir menulis, “Bagi kita kaum muslimin, negara bukanlah suatu badan yang tersendiri yang menjadi tujuan. Dengan persatuan agama dengan negara yang kita maksudkan, bukanlah bahwa agama itu cukup sekedar dimasukkan saja di sana sini kepada negara itu. Bukan begitu! Negara, bagi kita, bukan tujuan, tetapi alat. Urusan kenegaraan pada pokoknya dan pada dasarnya adalah satu bagian yang tak dapat dipisahkan, satu ‘intergreerenddeel’ dari Islam. Yang menjadi tujuan ialah: “Kesempurnaan berlakunya undang-undang Ilahi(syariat), baik yang berkenaan dengan perikehidupan manusia sendiri (sebagai individu), ataupun sebagai anggota dari masyarakat dan dlm tatanan negara.”
Mengapa Natsir bersikukuh dengan pendapatnya bahwa Islam tak bisa dilepaskan dari negara? Pikiran Natsir berikut akan mudah dipahami: “Kalau perlu hendak memperbaiki negara yang begitu keadaannya, perlulah dimasukkan kedalam dasar-dasar hak kewajiban antara yang memerintah dan yang diperintah. Harus dimasukkan ke dalamnya kaitan rohani antara manusia dengan Ilahi, yang berupa peribadatan yang khalis, ialah satu-satunya alat yang sempurna untuk menghindarkan semua perbuatan rendah dan mungkar. Perlu ditanam di dalamnya budi pekerti yang luhur, suatu hal yang tidak boleh tidak, perlu untuk mencapai keselamatan dan kemajuan, perlu ditanamkan dalam dada penduduk negara-negara itu satu falsafah kehidupan yang luhur dan suci, satu ideologi yang menghidupkan semangat untuk berjuang mencapai kejayaan dunia dan kemenangan akhirat. Semua itu terkandung dalam satu susunan, satu stelsel, satu kultur, satu ajaran, satu ideologi yang bernama Islam.”
Pandangan Natsir sangat Islamis, sementara Soekarno berpandangan sekuler. Menurut Natsir, sekulerisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap, hanya di dalam batas hidup keduniaan. Sesuatu dalam penghidupan kaum sekularis tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal akhirat, Tuhan, dan sebagainya. Walapun adakalanya mereka mengakui adanya Tuhan. Natsir lalu memberi contoh, dalam penghidupan perseorangan sehari-hari misalnya, seorang sekularis tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam sikap, tingkah laku dan tindakan sehari-hari, maupun hubungan jiwa dalam arti doa dan ibadah. Adapun ajaran sekulerisme yang paling berbahaya karena paham ini menurunkan nilai-nilai hidup manusia dari taraf ketuhanan kepada taraf kemasyarakatan.
Bersatunya agama dengan negara, menurut Natsir, adalah buah dari sejarah. Ia memberi contoh, sejak pertamakali Islam datang ke nusantara, Islam adalah sumber kekuatan politik di bumi pertiwi ini. Dan ini dibuktikan dengan kenyataan sejarah, bahwa Islam dipakai sebagai dasar dan sumber kekuatan dari kesultanan-kesultanan Islam. Adapun pilihan Islam sebagai dasar negara, karena Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Jika Islam menjadi minoritas, maka tidak ada alasan dijadikan sebagai dasar negara.
Menurut Natsir, bila dalam pemerintahan negara-negara berpenduduk muslim terjadi ketimpangan-ketimpangan, maka itu bukanlah suatu ukuran yang bisa dijadikan alasan untuk menolak prinsip negara dan agama. Karena itu, untuk menjadi kepala negara dalam pemerintaha Islam, ada persyaratan yang cukup ketat. Ia menyebut tentang pengetahuan agamanya, sifat, tabiat, akhlak dan kecakapannya untuk memegang kekuasaan yang diberikan kepadanya, bukan bangsa dan keturunannya atau semata-mata disandarkan kepada kemampuan intelektualnya saja. Sepanjang penguasa itu masih di jalur yang benar, sepanjang itu pula wajib ditaati. Tapi, bila si pemimpin sudah menyimpang, maka tak lagi wajib diikuti. Karena itu, dalam Islam, masih kata Natsir, mewajibkan musyawarah tentang kewajiban dan hak, antara penguasa dengan rakyatnya.
Adapun prinsip musyawarah, dalam pandangan Natsir, tidaklah selalu identik dengan demokrasi. Ini adalah koreksi Natsir terhadap Soekarno yang menghendaki asas demokrasi dijadikan landasan bila ada perselisihan. “Islam itu antiistibdad, antiabsolutisme dan kesewenang-wenangan. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa dalam pemerintahan Islam itu semua urusan diserahkan kepada keputusan musyawarah majelis syura. Ini karena, menurut Natsir, dalam parlemen negara Islam, yang boleh dimusyawarahkan adalah tata cara pelaksanaan hukum Islam, tapi bukan dasar pemerintahannya. Bagi Natsir, Islam itu suatu pengertian, suatu paham, suatu idiologi sendiri, yang mempunyai sifat-sifat sendiri pula. ”Islam tak usah demokrasi 100%, bukan pula otokrasi 100%, Islam itu ya Islam!”
Dalam pandangan Soekarno, Turki di masa kemal Attartuk adalah sebuah negara yang demoktratik. Tapi, Natsir melihatnya lain. Sebab, di masa Attartuk, di Turki tak ada kebebasan pers, tak ada kebebasan berpendapat, dan tak ada partai oposisi yang semuanya ini adalah pengingkaran terhadap watak demokrasi itu sendiri.
Ketika Soekarno sebagai presiden yang sudah mengarah pada penyimpangan amanat UUD 1945, Natsir kembali angkat bicara dan fisik. Natsir, Syafruddin Prawiranegara, dan Burhanudin Harahap yang didukung oleh puluhan politisi menuntut agar dibentuk kabinet yang dipimpin oleh Mohammad Hatta dan Hamengkubuono IX, masing-masing sebagai Perdana Menteri dan Wakil Perdana Menteri. Puncaknya adalah dikeluarkannya ultimatum pada 10 Februari 1958. Isinya, jika pemerintah pusat tidak memberi jawaban, maka mereka menganggap tak punya kewajiban taat kepada pemerintah yang melanggar UUD. Tak ada jawaban, dan pecahlah PRRI di Suamtera Barat, Natsir dan kawan-kawan masuk hutan. Setelah Sumatera Barat dikuasai oleh pemerintah, Natsir bersama beberapa petinggi PRRI mendekam di penjara, dari tahun 1961 sampai tahun 1966.
Di era Orde Baru, sebagaimana para pimpinan Masyumi lainnya, Natsir berharap agar pemerintah memberi angin sejuk buat umat Islam. Juga, merehabilitas Masyumi, sebuah partai politik Islam yang dibubarkan rejim orla pada Agustus 1960. Tapi rupanya, Presiden Soeharto menjadi ketakutan bila Maysumi bangkit, kekuatan Islam akan bisa menguat. Dan itu akan membahayakan posisinya sebagai presiden. Bahkan, tokoh-tokoh Masyumi yang akan tampil ke gelanggang politik praktis, dihadang.
Natsir menyadari betul masalah tersebut. Dan pada tahun 1967, ia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), sebagai medan juangnya. Lewat DDII inilah Natsir yang juga pernah menduduki jabatan di berbagai organisasi Islam dunia seperti World Muslim Congress, Rabitah Alam Islamy (1969), Anggota Dewan Masjid Sedunia, mendidik calon-calon juru dakwah, dan mengirimkannya ke seluruh pelosok Indonesia.
Lewat DDII pula, karya Natsir tak terhingga bilangannya. Ratusan masjid dan ribuan ustad telah ia kader. Semangatnya hanya satu, api Islam tak boleh padam. Dimana dan kapan pun, seorang muslim, mesti bermanfaat untuk lingkungannya.
Natsir adalah sosok muslim yang lengkap ilmunya. Ini karena penguasannya terhadap bahasa-bahasa asing, baik Timur maupun Barat. Dalam buku Capita Selecta, pikiran-pikiran Natsir –dari politik sampai peradaban—dengan mudah kita cerna. Dalam bukunya Fiqhud Dakwah, orientasi dakwahnya yang sejuk memberi inpirasi pada generasi muda.
Mohammad Natsir sangat dihormati oleh dunia Islam, ia adalah ulama, da’i militan yang tidak pernah menyerah dengan lawan, selalu membela kebenaran. Seperti yang pernah ia lakukan terhadap masalah Palestina, berkiprah di kancah internasional, dan ia selalu sederhana dalam bernampilan.
Mengenang Mohammad Natsir, tidak akan lepas dari kiprah beliau yang banyak bergelut di berbagai organisasi dengan jabatan strategis. Berikut ini beberapa jabatan yang pernah diamanahkan kepada sosok da’I idiologis dan sekaligus negarawan ulung, Mohammad Natsir:
1. Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung.
2. Mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung.
3. Direktur Pendidikan Islam, Bandung.
4. Menerbitkan majalah Pembela Islam, dalam melawan propaganda misionaris Kristen, antek-antek penjajah dan kaki tangan asing.
5. Anggota Dewan Kabupaten Bandung.
6. Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakusho).
7. Memimpin Majelis Al Islam A’la Indunisiya (MIAI).
8. Menjadi pimpinan Direktorat Pendidikan, di Jakarta.
9. Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta.
10. Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
11. Anggota MPRS.
12. Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia). Dalam pemilu 1955, yang dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah bangsa, Masyumi meraih suara 21% (Masyumi memperoleh 58 kursi, sama besarnya dengan PNI. Sementara NU memperoleh 47 kursi dan PKI 39 kursi). Capaian suara Masyumi itu belum disamai, apalagi terlampaui, oleh partai Islam setelahnya, hingga saat ini.
13. Menentang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda dan mengajukan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dikenal dengan Mosi Integrasi Natsir. Akhirnya RIS dibubarkan dan seluruh wilayah Nusantara kecuali Irian Barat kembali ke dalam NKRI dengan Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri-nya. Penyelamat NKRI, demikian presiden Soekarno menjuluki Natsir.
14. Menteri Penerangan Republik Indonesia.
15. Perdana Menteri pertama Republik Indonesia.
16. Anggota Parlemen. Penentang utama sekulerisasi negara, pidatonya “Pilih Salah Satu dari Dua Jalan; Islam atau Atheis” di hadapan parlemen, memberi pengaruh yang besar bagi anggota parlemen dan masyarakat muslim Indonesia.
17. Anggota Konstituante.
18. Menyatukan kembali Aceh yang saat itu ingin berpisah dari NKRI.
19. Mendirikan dan memimpin Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yang cabang-cabangnya tersebar ke seluruh Indonesia.
20. Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional, di Pakistan.
21. Aktif menemui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina.
22. Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League), juga pernah menjadi sekjennya. Natsir adalah pemimpin dunia Islam yang amat dihormati—Sekretaris Jenderal Rabitah Alam Islami meminta hadirin berdiri saat pak Natsir memasuki ruang sidang organisasi dunia Islam itu.
23. Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia).
24. Presiden The Oxford Centre for Islamic Studies London.
25. Pendiri UII (Universitas Islam Indonesia) bersama Moh. Hatta, Kahar Mudzakkir, Wahid Hasyim, dll. Juga enam perguruan tinggi Islam besar lainnya di Indonesia.
26. Ketika presiden Soeharto kesulitan menuntaskan konforontasi Indonesia-Malaysia (yang dimulai presiden Soekarno), berkat bantuan dan jasa hubungan baik Natsir dengan Perdana Menteri (PM) Tengku Abdul Rahman, Malaysia membuka diri menyelesaikan konfrontasi, dan Letjen TNI Ali Moertopo, Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto, diterima/berunding pejabat Malaysia.
27. Berkat jasa hubungan baik Natsir dengan PM Fukuda juga, pemerintah Jepang bersedia membantu Indonesia setelah perekonomian negara ambruk di masa Orde Lama dan setelah pemberontakan G 30 S/PKI.
28. Karena jasa baik dan pengaruh ketokohan DR. Muuhammad Natsir pula, Presiden Soeharto diterima di negara-negara Timur Tengah dan Dunia Islam. Natsir adalah anak bangsa Indonesia yang pernah menjadi tokoh Dunia Islam yang begitu dihormati sepanjang sejarah Indonesia—bahkan sampai sekarang. (www.penamuslim.com)
Disamping mahir berorganisasi sehingga menjadi negarawan ulung, beliau adalah seorang pendidik sehingga menjabat dalam berbagai posisi strategis. Mohammad Natsir sangat cinta kepada Islam. Ia adalah seorang da’i yang mendidik umat, memperhatikan kemaslahatan dan terus mengabdikan dirinya dijalan dakwah. Disamping itu, ia seorang cendekiawan yang intelektualnya ditasbihkan dalam tulisan. Mulai berdakwah lewat Majalah Pembela Islam, Majalah Pandji Islam dan banyak berkarya dalam dunia perbukuan untuk selalu mewariskan tsaqafah-nya. Hampir semua buku yang ia tulis berbahasa Arab yang bernuansa Islami. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian pada dinul Islam sebagai agama penyempurna dan paripurna.
Karya-karya Mohammad Natsir antara lain: Fiqhud Da’wah (Fikih Dakwah), Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan), Shaum (Puasa), Capita Selecta I, II, dan III, Dari Masa ke Masa, Agama dalam Perspektif Islam dan masih banyak lagi. (Dikutip dari buku “Mereka Yang Telah Pergi” karya Abdullah Al-’Aqil dan Majalah Al-Mujtama’ Edisi 3).
Perjalanan hidup Mantan Perdana Mentri RI terus berlawanan dengan pihak yang tidak senang dengan pandangan politik dan kebijaksanaannya. Walaupun ia sangat mati-matian memperjuangkan nasib dan kepentingan umat, bangsa dan negara. Sebagai contoh ia terkenal dengan Mosi Integral yang menyatukan keutuhan NKRI, kiprah di dunia pendidikan juga dengan getol ia lakukan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam. Dunia mengakuinya, namun di negerinya sendiri mulai dari rejim Soekarno dan Soeharto telah memandang sebelah mata. Ia beberapa kali masuk penjara, berjuang diputan-hutan dan sampai dilarang pergi keluar negeri oleh pemerintahan Soeharto karena ketokohannya yang sangat disegani dan dihormati di kancah perpolitikan Islam.
Dengan tegas Natsir berkata, “Pilihlah salah satu dari dua jalan: Islam atau Atheis!” Ketika di parlemen Indonesia di masa kemerdekaan, Natsir mengulangi sikap tegasnya ini tanpa sedikit pun malu atau risih, berbeda jauh dengan tokoh-tokoh Islam di masa kini yang sedapat mungkin berusaha menghindari pengucapan kata “Islam” atau bahkan ada yang sampai hati menyatakan jika perjuangan politik Islam sudah ketinggalan zaman dan bagian masa lalu.
Walau tengah duduk di pusat pemerintahan, sikap M. Natsir tidak pernah berubah: sangat tegas jika menyangkut akidah, namun lembut dalam hal hubungan sesama manusia. Terhadap para misionaris Kristen yang di masanya sangat gencar dan terang-terangan ingin memurtadkan umat Islam, Natsir dengan berani menentangnya. Juga ketika Soekarno dan para yes-man di sekitarnya menyatakan jika kemerdekaan Indonesia disebabkan oleh semangat nasionalisme, Natsir menolak keras dan menandaskan jika Islam-lah titik-tolak, penyebab, dari kemerdekaan dan kedaulaan Indonesia.
Sejarawan Islam Ahmad Mansyur Suryanegara menyatakan, “Rakyat Indonesia melawan penjajah dengan semangat jihad, teriakan mereka “Allahu Akbar!”, bukan yang lain.”
Ketika Soekarno berhubungan dengan dengan PKI, Natsir tanpa ragu melawannya walau itu berarti keselamatan jiwa dan karir politiknya terancam, Natsir sama sekali tidak perduli. Hidup bagi Natsir, dan ini harusnya juga bagi umat Islam lainnya, adalah berjuang di jalan dakwah untuk meninggikan kalimat Allah SWT, apa pun resikonya.
Dalam hal ini, lawan-lawan politik Natsir dan kaum Islamophobia sering mengungkit keikutsertaan Natsir dalam PRRI yang melawan kekuasaan Soekarno. Terkait hal tersebut, di masa tuanya, Natsir pernah menuturkan, ”PRRI itu gerakan perlawanan terhadap Soekarno yang sudah sangat dipengaruhi PKI. Melihatnya tentu harus dari perspektif masa itu. Ini masalah zaman saya. Biarkanlah itu berlalu menjadi sejarah bahwa kami tidak pernah mendiamkan sebuah kezaliman.”
Di arena Sidang, Natsir mampu berdebat dengan amat keras dengan lawan-lawan politiknya, tapi setelah itu mereka bisa makan-minum semeja di kantin dan mengobrol dengan akrab.
“Saya sebagai tokoh Masyumi biasa minum teh bersama-sama tokoh-tokoh PKI,” akunya. “Jadi kita memusatkan diri kepada masalah, bukan kepada person”, tambah Natsir. Bahkan menurutnya beberapa masalah penting bisa diselesaikan melalui pertemuan informal seperti itu.
Dalam berbagai ceramah, Natsir berkata, “Islam tidak terbatas hanya pada aktivitas ritual ibadah muslim yang sempit, tapi pedoman hidup bagi individu, masyarakat dan negara. Islam menentang kezaliman manusia terhadap saudaranya. karena itu, kaum muslimin harus berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan. Islam menyetujui prinsip-prinsip negara yang benar.
Karena itu, kaum muslimin harus memperjuangkan negara yang merdeka berdasarkan nilai-nilai Islam. Tujuan ini tidak terwujud jika kaum muslimin tidak punya keberanian berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan, sesuai dengan nilai-nilai yang diserukan Islam. Mereka juga harus serius membentuk kader dari kalangan pemuda muslim yang terpelajar.”
Seorang M. Natsir sangat menekankan pendidikan yang benar terhadap umat Islam, agar umat Islam memiliki akidah yang benar, bersih, dan lurus, yang bertauhid, yang hanya menyerahkan wala’ atau loyalitasnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, hanya kepada kitab suci Al-Qur’an dan Hadits, bukan kepada yang lain. Jika para pemuda Islam telah memiliki akidah yang lurus seperti itu, tauhid yang murni, maka perjuangan mereka juga akan lurus dan bersih, tidak mencla-mencle, tidak plintat-plintut, tidak mengutak-atik syariat yang ada demi kepentingan duniawi sesaat. Itu tergambar dalam buku yang ia tulis yaitu : Fiqh Da'wah.
Dalam pidatonya di depan Sidang Majlis Konstituante, 13 November 1957, M. Natsir berkata, ”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka… Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, ”Dimana sumber perikemanusiaan itu?” Natsir menjawabnya sendiri, “Islam-lah sumber segala kehidupan dan keteraturan di dunia ini.”
Apa yang ditegaskan Natsir dahulu, di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini sama sekali tidak diperhatikan oleh mereka yang mengklaim sebagai “tokoh-tokoh Islam”, baik yang duduk di parlemen, di partai politik, maupun di kabinet. Malah sebagian tokoh-tokoh itu malah mulai teracuni oleh pemikiran-pemikiran sekuler dengan menempatkan pluralitas—dengan konsekuensi juga paham pluralismenya—berada di atas dan menempatkan perintah Allah SWT di bawahnya.
Bahkan untuk membohongi suara hati nuraninya sendiri, untuk menipu fitrah kemanusiaannya sendiri, ada yang memakai dalil jika Islam adalah “Rahmatan lil’alamin”. Maka tanpa malu sedikit pun mereka mulai memberikan loyalitasnya kepada kaum kufar, seolah mereka tidak pernah mendapat materi pengajian Wala wal Barra.
Padahal tidak pernah sekali pun Rasulullah SAW memberikan loyalitasnya kepada kaum kuffar. Keluarga merupakan bentuk paling kecil dari pemerintahan, bukankah Islam mengatakan bahwa pernikahan otomatis batal jika seorang perempuan Muslim ternyata menikah dengan lelaki kafir?. Demikian juga dalam kehidupan bernegara.
Sebab pangkalnya adalah masalah pembinaan atau pendidikan. Dalam wawancara dengan Jurnal Inovasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY, 1987), Natsir yang waktu itu telah berusia 79 tahun mengutarakan ada tiga unsur yaitu, masjid, pesantren, dan kampus, yang apabila dipertemukan, niscaya akan menjadi modal utama pembinaan umat maupun pembangunan bangsa dan negara, entah di bidang ekonomi, pendidikan, budaya dan sebagainya.
Sayangnya, sekarang ini tiga pilar kekuatan umat tersebut ditinggalkan dan digantikan dengan tiga pilar lainnya: hotel, hotel dan hotel. Sebab itu tidaklah mengherankan jika ada segelintir “tokoh Islam” yang tidak malu-malu lagi melarang umat Islam untuk menghadiri kajian ilmu di sebuah masjid di Jakarta, namun menggelar dangdutan di tempat lain.
Andai saja Natsir di zaman sekarang masih hidup dan melihat semua ini, maka bukan mustahil beliau akan berkata, “Ulangilah syahadat kalian!” Seperti yang biasa dikatakan oleh sahabat Natsir, Kasman Singodimedjo, ketika melihat ada yang tidak beres dalam tokoh-tokoh umat Islam.

Pada 6 Februari 1993, Natsir mengahadap Ilahi. Ia adalah seorang pejuang yang tiada mengenal lelah dan keluh. Kini Mohammad Natsir telah wafat. Namun semangat juang untuk meneggakan kalimatullah, bertauhid, selalu membahana dihati orang-orang yang mencintainya sebagai penerus perjuangan dakwah ini. Mohammad Natsir, dikenal dengan keserdehanaan hidup, kecerdasan intelektul, piawai dalam berpidato yang sangat menyentuh, organisator handal, kerja keras pantang menyerah dalam berdakwah, tauhidnya yang lurus menjadikan dirinya menjadi tokoh Nasional yang diakui dunia dan terus mengabdi demi kepentingan umat.
seruan
wahai pemuda islam Indonesia mari kita perjuangkan kembali tegaknya kembali intitusi penegak syariah,penjaga ukhuwah,pemersatu umat .dengan memperjuangkan kembali khilafah islamiah yang mengikuti metode kenabian
sehingga kaum muslimin tidak mudah lagi di hinakan,
kaum muslimin tidak akan di biarkan kelaparan,
kaum muslimin tidak akan lagi teraniaya,
apalagi dibunuh dan dibantai dengan kejam.
maka sudah cukup tetesan air mata berlinang,
sudah cukup lumuran darah bercucuran,
sudah cukup korban jiwa berjatuhan,
sudah cukup kebinasaan manusia,
Tidak rindukah engkau wahai para pemuda islam dengan surga dan bidadari-bidadari yang bermata jeli, untuk berjihad di belakang Khalifah..?!!
Tidak rindukah engkau wahai para pemuda dengan surga dan bidadari-bidadari yg bermata jeli, untuk berjihad di belakang bendera ar-Rayaa yang dahulu Khalid bin Walid menggenggamnya..?!!
Tidak rindukah engkau wahai para pemuda dengan surga dan bidadari-bidadari yg bermata jeli, untuk berjihad di belakang bendera al-Liwaa yang dahulu Ali bin Abi Thalib menggenggamnya pada perang Khaibar..?!!
Perlu berapa nyawa lagi, agar engkau tergerak masuk ke dalam barisan para pejuang Islam yang ikhlas menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah, wahai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala..?!!
Perlu berapa nyawa lagi, agar tanganmu terkepal menggenggam bendera Islam, wahai umat nabi Muhammad Shallallhu ‘alaihi wa sallam..?!!
Perlu berapa nyawa lagi, agar kakimu berlari untuk menyongsong Dakwah dan Jihad, wahai penerus sultan iskandar muda..?!!
Perlu berapa nyawa lagi, agar badanmu tergerak untuk memusnahkan sistem kapitalis sekuler demokrasi Jahiliyyah yang ada sekarang dan menggantinya dengan Sistem Islam Rahmatan lil ‘alaamiin, wahai penerus Muhammad natsir..?!!
Perlu berapa nyawa lagi, agar matamu meneteskan air yang dapat menyelamatkanmu di akhirat kelak, wahai khairun ummah ,umat terbaik..?!!
Belum cukupkah derita saudara kita kaum Muslimin di Afganistan memanaskan nadi-nadi kita untuk bertakbir di bawah bendera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam..?!!
Belum cukupkah derita saudara kita kaum Muslimin di Palestina meletupkan kepala kita untuk berjihad dibawah bendera RasuluLlah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam..?!!
Belum cukupkah derita saudara kaum Muslimin di seluruh negeri-negeri Islam membakar darah kita untuk berjuang demi tegaknya syariah dan Khilafah..?!!
kelak di akhirat nanti disaat anak anak saudara kita kaum muslimin korban Iraq,Palestine,Afghanistan,Ambon berdiri dihadapan kita,
dan menujuk wajah kita dihadapan Allah degan kata kata ……….
YA ALLAH …MEREKA TELAH MEMBIARKAN KAMI DI BANTAI YAA ALLAH…MEREKA HANYA DIAM SAAT KAMI KAMI DI BANTAI YAA ALLAH....
Yaa ayyuhal Mukminuun… Yaa ayyuhasysyabaab
Marilah kita berjuang bersama-sama bahu-membahu bersatu-padu untuk melanjutkan kehidupan Islam dan mengembalikan ‘Izzul Islam wal Muslimin dengan mendirikan kembali Daulah Khilafah Rosyidah Islamiyah…
dan wahai kaum Muslimin ketahuilah bahwa Allah telah berjanji dalam firman-Nya “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa…” QS An Nuur : 55
maka dengan pedoman janji Allah SWT tersebut dapat dipastikan
bahwa masa depan dunia adalah ISLAM
masa depan dunia adalah diterapkanya hukum-hukum Al Qur’an dan As Sunnah
masa depan dunia adalah ditegakanya Syariah Islam
masa depan dunia adalah berdirinya kembali Daulah Khilafah ‘ala manhaj kenabian
Allahu Akbar…
Yaa ayyuhal Mukminuun… Yaa ayyuhasysyabaab
mari kita sambut janji Allah SWT tersebut dengan berjuang
mari kita songsong janji Allah SWT dengan berkorban
mari kita wujudkan janji Allah SWT dengan berdakwah
mari kita buktikan janji Allah SWT dengan berjihad
doa
“Ya Allah…muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, serta hinakanlah siapa saja yang memerangi Kami!! dan berikanlah pertolonganmu dalam perjuangan menegakan Syariah mu dalam tatanan Daulah Khilafah ….”
ya Allah sungguh hanya kepada engkaulah orang - orang mukmin bersujud dan mengadu akan kehidupan dunia yang membuat mereka kadang terlupakan akan kehidupan akhirat
,ya Allah ampuni dosa-dosa kami, ampuni dosa kedua orangtua kami,syangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kecil,bahkan lebih dari itu ya Allah.
Ya Allah ya Rahman limpahkanlah rasa cintakasih pada kami,agar kami menyayangi anak-anak kami,mencintai janin janin kami,merawat bayi bayi kami yang telah engkau titipkan pada kami ya Allah
.ya Allah limpahkan lah pada kami rizqi yang hallal darimu, agar kami bisa menafkahi keluarga kami, anak anak kami,orangtua kami,dan orang orang yang menjadi tanggungan kami dengan rizqi mu yang hallal ya Allah.
ya Allah yang Menurunkan Islam, jadikan lah Al Quran dan Assunah sebagai petunjuk kami,sebagai penerang kejailiyahan kami,dan sebagai penghibur kegalauan hati kami.
ya Allah anugrahkan pada kami seorang pemimpin yang dapat menjalankan seluruh Syariatmu Ya Allah,anugrahkan pada kami sebuah Negara yang menjalankan seluruh aturanmu Ya Allah ,Negara khilafah yang mengikuti metode kenabian, karena hanya dengan Negara seperti itu kami dapat mendapatkan kemuliaan dunia dan kemuliaaan akhirat
.maka berilah kami semangat memperjuangkan agama mu yang engkau berikan kepada Muhammad Natsir pahlawan kami. dan keberhasilan yang engkau berikan kepada umar ibn abdul aziz untuk kembali menegakan ajaran mu ya Allah…….. jadikanlah kami hamba yang berguna bagi tegaknya agama mu yang mulai runtuh sebagai mana sallahuddin al ayubi berusaha tetap menegakan ajaranmu di saat umat islam terpecah dan orang - orang kafir berkuasa …
ya Allah kami muak hidup dalam naungan hukum buatan manusia maka tolonglah kami ya Allah dalam meneggakkan kembali Syariah mu dalam naungan daulah Khilafah islamiah amin ya roobal alamin…….

Related Article:

0 comments:


 
Copyright 2010 skooplangsa. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog