Who Else Wants to Learn Arabic So They Can Speak Arabic Confidently and Naturally?

Halaman

Ibnul Khattab: Khalid bin walid abad 20



“Hanya satu yang menghalangi seorang Muslim berjihad di jalan Allah: sifat pengecut !”

Saat menulis bagian ini, hati saya sungguh seperti dihantam-hantam­ palu cemburu. Saya begitu iri setelah mengetahui lebih jauh sosok kita yang satu ini. Batapa tidak, cintanya pada jihad telah membuatnya seperti memburu kematian, di saat manusia lainnya justru ketakutan. Di mana bumi Allah bergolak, ia selalu menyematkan namanya sebagai salah satu pejuang.

Sungguh, bagaimana tidak iri. Ia telah matang dalam medan perjuangan. Dihibahkannya seluruh hidupnya demi memperjuangkan ummat Islam di tanah-tanah yang penuh kezhaliman. Dan saat ia terjun ke medan jihad pertamanya, usianya belum genap 17 tahun. Saat teman-teman seumurnya masih terlena dengan keindahan dunia, ia sudah tahu betul bahwa syahid adalah jalan paling indah menuju surgaNya.

Ibnul Khattab adalah julukannya di medan perang. Nama sesungguhnya adalah Samir Saleh Abdullah Al Suwailim. Putra jazirah Arab yang datang dari keluarga mulia. Saat itu, kala usianya beranjak dari masa yang lazim disebut remaja, ia tengah mempersiapkan perjalanannya menuju Amerika Serikat. Namanya telah terdaftar di salah satu sekolah di negeri yang kelak menjadi musuh utamanya tersebut.

Namun tahun-tahun itu, panggilan jihad dari Afghanistan terdengan bertalu-talu. Asy Syahid (kama nahsabuhu, red) Syaikh Abdullah Azzam menyeru pemuda-pemuda Islam di manapun untuk datang dan menyumbangkan tenaga, darah, bahkan nyawa bagi tanah Afghanistan yang dijajah Uni Soviet. Pada awalnya, Ibnul Khattab hanya berniat melawat dalam hitungan sekejap ke bumi jihad itu, tapi rupanya, lawatannya itu ternyata adalah lawatan sepanjang hidup. Lawatan yang membuatnya terpisah dari orang tua dan keluarga.

Jiwanya begitu terbakar oleh api jihad. Saat tiba di Afghanistan, ia hanya seorang anak kecil yang mentah, tapi kesaksian mujahidin menyebutkan di matanya nampak api yang menyala-nyala. Kamp-kamp jihad Afghanistan kala itu setiap harinya selalu penuh dengan orang-orang yang berbeda-beda. Satu kelompok datang, satu kelompok pergi ke garis depan. Satu kelompok untuk persiapan dan latihan. Satu kelompok lagi memikul senjata maju menghadang.

Saat tiba di Afghanistan, ia hanya seorang anak kecil yang mentah, tapi kesaksian mujahidin menyebutkan di matanya nampak api yang menyala-nyala.

Setiap kelompok yang baru datang, wajib mengikuti latihan, persiapan, dan pembekalan. Tidak saja secara fisik, tapi terlebih lagi secara ruhiyah. Para mujahid harus matang, luar dan dalam, sebelum ia bertempur ke medan perang. Itulah yang dilakukan orang-orang yang hendak berjuang di Afghanistan. Tak terkecuali Ibnul Khattab muda.

Ia harus melewati fase yang sama. Namun, rupanya tak sabar hati Khattab muda untuk berjuang. Berkali-kali ia merayu komandan-komand­an kamp latihan agar mendaftarkan namanya maju ke garis depan. Semua orang tersenyum, anak semuda ini, kumis pun belum tumbuh. Maka Ibnul Khattab pun harus bersabar menyelesaikan masa persiapan diri walaupun jiwanya meronta-ronta untuk berlari paling depan membela agama Islam.

Hanya dalam hitungan tahun, Ibnul Khattab menjadi seorang mujahid yang namanya begitu masyhur di kalangan mujahidin lainnya. Namanya tercantum dalam semua operasi utama mujahidin Afghanistan melawan tentara komunis Uni Soviet. Musuh yang dihadapinya, mulai dari tentara biasa, sampai pasukan komando khusus dengan persenjataan lengkap.

Ia tak takut mati. Tak kenal jeri, bahkan nyaris tak punya rasa sakit dan letih. Suatu ketika, tubuhnya tertembus peluru berdiameter 12,7 milimeter. Biasanya, peluru ini digunakan untuk menghadapi kendaraan lapis baja, tapi dengan izin Allah, Ibnul Khattab bertahan dengan rasa sakit yang tak dihiraukannya. Suatu hari ia memasuki tenda dalam keadaan terluka. Wajahnya pucat, dan seluruh teman-teman yang melihatnya merasa khawatir dan bertanya,
“Apakah engkau cedera ?”

Ibnul Khattab hanya menjawab ringan,
“Biasa, luka ringan. Tak perlu dikhawatirkan.”

Meski didesak, ia hanya mengatakan luka di perutnya hanya luka yang tak serius untuk jihad yang besar ini. Kawan-kawannya pun memaksa memeriksa luka yang diderita Ibnul Khattab. Rupanya, ia mengalami pendarahan hebat dan harus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, di dalam mobil, ia selalu berusaha meyakinkan teman-temannya,
“Ini hanya luka ringan, tak serius. Esok hari juga sudah tak terasa lagi.”

Ia berkali-kali meminta, agar tak dijauhkan dari medan jihad yang mulia. Begitulah keteguhan dan ketegaran seorang Ibnul Khattab, putra jazirah Arab yang memuliakan perjuangan agamanya.

Hari terus berganti. Tahun pun berlalu. Karena Afghanistan, para mujahidin, dan tentu saja dengan izin Allah, keruntuhan Uni Soviet bermula. Negara adidaya itu beringsut mundur teratur dari bumi jihad Afghanistan. Tetapi berhenti dari Afghanistan, ternyata bukan berarti Uni Soviet berhenti menjajah. Mereka menyerang dan mencaplok negeri Islam lainnya, Tajikistan di Asia Selatan. Mendengar berita ini, seolah ringan saja kakinya melangkah, Ibnul Khattab mengumpulkan beberapa orang temannya, membawa perbekalan seadanya dan terus berjalan memburu syahid di Tajikistan.

Ia menyiapkan perjalanannya ke Tajikistan; membeli senjata, alat komunikasi, dan juga kendaraan. Setelah semua terkumpul, bukan hal mudah untuk menuju Tajikistan. Ibnul Khattab menulis dalam buku hariannya bahwa menyeberangi sungai Jeihun adalah perjuangan tersendiri. Di Tajikistan pada awalnya Ibnul Khattab melatih pemuda-pemuda dan para mujahidin pemula sebanyak 100 sampai 120 orang. Lambat laun di bawah bimbingannya, jumlah mujahidin terus bertambah.

Tak lama setelah perang Tajikistan, Uni Soviet benar-benar runtuh. Dan sebagai gantinya, tumbuhlah Rusia sebagai penjajah baru. Runtuhnya Uni Soviet membuat negara-negara yang dulu berada di bawah kekuasaannya memutuskan untuk berjuang dan meraih kemerdekaannya sendiri. Satu di antara negeri-negeri itu adalah Chechnya. Pada awalnya tak banyak orang yang mengetahui bahwa negeri yang sedang berjuang melepaskan diri dari Rusia itu adalah negeri Islam. Suatu hari, tanpa sengaja Ibnul Khattab menyaksikan lewat televisi satelit dari Afghanistan, orang-orang Chechnya yang sedang bertempur melawan tentara Rusia. Satu di antara mereka yang berperang, dilihatnya memakai ikat kepala dengan tulisan Laa ilaaha ilallaah. Tanpa pikir panjang, Ibnul Khattab lalu mengangkat senjata dan mencari jalan untuk berjuang bersama-sama mujahidin Chechnya.

Tahun 1995, adalah tahun pertama kali ia menginjakkan kaki di bumi jihad Chechnya. Ia selalu mencintai di mana pun tanah jihad dipijaknya. Ia tak pernah membedakan suku, warna kulit, atau bentuk dan cirri fisik. Di manapun, setiap ia mendengar nasib kaum Muslimin, hatinya selau tergerak untuk membela. Bersama beberapa orang yang sejak dari Afghanistan setia menyertainya, ia terjuan secara mendalam pada jihad Chechnya.

Ketika memasuki wilayah Chechnya, ia mendapati pemandangan yang sangat memukau hatinya. Ia menemui anak-anak muda yang berjuang tak pernah lupa dan lalai menegakkan shalat dan menajga ibadah-ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah.

“Kami masuk ke Chechnya dan menemui anak-anak muda yang menjaga shalat mereka. Mereka berkomitmen untuk berjihad di jalan Allah. Saya dibuat terheran-heran,­ demi Allah saya sampai menangis menyaksikannya.­" tutur Khattab mengenang perjalanan awalnya dalam jihad Chechnya.

Hanya dalam satu tahun, namanya sudah masuk menjadi target utama yang harus didapatkan oleh Rusia. Pasalnya, pada tahun 1996, tepatnya 16 April, Ibnul Khattab dan kelompoknya melakukan operasi gerilya yang disebut sebagai Operasi Shatoi. Dalam operasi ini, Ibnul Khattab dan pasukannya menyergap konvoi kendaraan tentara Rusia yang berjumlah tak kurang dari 50 kendaraan berat dari perjalanan setelah menghancurkan sebuah perkampungan Muslim. Seluruh kendaraan tersebut berhasil dimusnahkan oleh Ibnul Khattab dan pasukannya.

Dalam serangan ini, Rusia kehilangan 223 pasukannya termasuk 26 perwira tinggi yang memimpin konvoi. Boris Yeltsin yang kala itu memimpin Rusia marah besar dan memecat dua orang jenderalnya yang dianggap tidak becus. Setelah itu, Boris Yeltsin pun mengumumkan oparasi militer untuk wilayah Chechnya di depan anggota parlemennya. Sejak saat itu pula Ibnul Khattab menjalani persahabatan dengan Syamil Basayev, salah seorang tokoh pejuang Chechnya yang sangat legendaris di mata para mujahidin di wilayah pegunungan Kaukakus.

Ketika kondisi di Chechnya agak mereda dan mulai dibentuk pemerintahan independen, saat itu Syamil Basayev mencalonkan diri sebagai presiden dan pemerintahan baru Chechnya menganugrahinya­ sebuah bintang penghargaan sebgai salah satu pahlawan Chechnya. Bahkan ia diangkat sebagai salah satu jenderal tertingggi di dalam struktur militer Chechnya.

Pada periode inilah, ketika Chechnya sedikit damai sehingga tekanan Rusia mulai mereda, Ibnul Khattab melangsungkan pernikahan dengan Muslimah setempat. Tak hanya Khattab, tapi juga mujahidin-mujah­idin lainnya melakukan hal yang sama, melengkapi setengah dari urusan agama mereka. Fenomena ini menandakan bahwa hati Ibnul Khattab telah jatuh cinta pada jihad, dan ia juga sangat mencintai Chechnya, tanah kaum Muslimin yang diperkosa oleh Rusia.

Suatu ketika, ia pernah menjumpai seorang nenek yang sudah sangat renta. Nenek tersebut mendatangi kamp-kamp pelatihan mujahidin dan menemui Ibnul Khattab. Kepada Ibnul Khattab sang nenek berkata,
“Saya hidup sudah sangat lama. Saya ingin hidup tenang, terlepas dari Rusia, bisa menjalankan dan menegakkan hukum-hukumNya.­ Kami tak ingin hidup dijajah Rusia.”

“Lalu apa yang bisa nenek sumbangkan untuk mujahidin yang sedang memperjuangkan cita-cita itu ?” tanya Ibnul Khattab.

“Aku tak memiliki apapun untuk disumbangkan kepada para pejuang. Aku hanya memiliki jaket yang aku pakai ini, dan akan aku berikan kepada mujahidin yang berjuang di jalan Allah.”

Lalu sang nenek melepaskan jaket dan mengulurkannya pada Ibnul Khattab.

Lelaki kekar berambut ikal itu pun terisak menangis karena terharu. Dan sejak saat itu, ia berjanji tak akan meninggalkan para mujahidin Chechnya berjuang sendirian tanpanya. Karenanya, para mujahidin Chechnya menjulukinya Khalid bin Walid abad ini.

Hanya saja, kondisi aman dan damai di Chechnya tak bertahan lama. Campur tangan dan usaha untuk mencaplok Chechnya kembali dilakukan oleh Rusia saat Aslan Maskhadov memimpin negara yang masih sangat muda tersebut.

Sejak awal Ibnul Khattab percaya bahwa kekuatan media memainkan peranan penting dalam setiap peperangan. Ia bisa mempengaruhi musuh dan juga bisa membangkitkan semangat kawan. Berbekal pengalamannya di berbagai medan jihad, Khattab mempelopori pendokumentasia­n semua serangan militer di Chechnya. Hal tersebut adalah salah satu jasa Khattab yang sangat besar bagi perjuangan Muslim Chechnya yang akhirnya memberi inspirasi dan membangkitkan kekuatan orang-orang yang berjihad di jalanNya.

Tak hanya untuk kepentingan strategi dan perjuangan, film-film dan gambar yang ia abadikan juga dikirimnya pada keluarga nun jauh di Arab Saudi untuk mengobati rindu. Ayahnya yang melihat video-video kiriman anaknya, merasa begitu kagum sekaligus gembira. Dan dengan bangganya sang ayah berkata,
“Dia bodoh jika ingin pulang !”

Berbeda dengan sang ayah, ibunda tercinta setiap kali Ibnul Khattab menelpon selalu meminta untuk pulang dan kembali ke rumah.

“Rasa cinta kepada keluarga adalah penghalang paling besar untuk orang-orang yang akan berangkat berjihad. Meski saya sudah tak pulang selama 12 tahun, setiap kali menelepon ibu, ibu selalu meminta saya untuk kembali pulang. Kalau saya pulang, siapa yang akan membantu perjuangan orang-orang ini, siapa yang akan meneruskan perjuangan kaum Muslimin ?!” ujarnya dengan ketetapan hati.

Dalam sebuah kalimat yang sangat tegas dan indah, Ibnul Khattab mengatakan tentang orang-orang yang takut berjihad di jalan Allah.
“Hanya satu yang menghalangi seorang Muslim berjihad di jalan Allah: sifat pengecut !”

Tak salah yang ia katakan, hanya orang-orang pengecut saja yang mengingkari kemuliaan jihad. Cita-citanya, selain syahid, ternyata tak muluk-muluk. Ibnul Khattab ingin terus berjuang menentang Rusia sampai tentara-tentara­ Beruang Merah itu mengangkat kaki dari tanah negeri-negeri kaum Muslimin.

“Kita mengenal Rusia dan tahu taktik mereka. Kita tahu kelemahan dan mental mereka. Karena itu, lebih mudah bagi kita untuk mengalahkan mereka, “ ujar Ibnul Khattab suatu ketika.

Lelaki ini kehilangan dua jari tangan kanannya di Tajikistan, saat ia melempar bom tangan yang ternyata meledak lebih dulu dan mebuat jari-jarinya hancur. Saat jari-jarinya hancur, ia hanya mengolesinya dengan sedikit madu dan membalutnya dengan kain. Jari-jari yang ia banggakan sebagai saksi bahwa ia telah berjuang di jalan Allah. Begitu juga nama yang ia sandang, Ibnul Khattab yang artinya dalah anak-anak Khattab. Mungkin saja ini ia ambil dari nama sekolah dasarnya di kota Tsuqbah, Sekolah Dasar Umar bin Khattab. Ia bangga dengan nama itu, sebuah penanda tentang keberanian dan keteguhan jiwa.

Ia seorang anak yang sangat cerdas. Cita-citanya menjadi seorang doktor. Ia selalu menulis cita-citanya tersebut dalam buku harian. Cita-cita demi cita-cita yang ternyata tak satu pun pernah dinikmatinya karena ia lebih menikmati panggilan jihad yang ternyata jauh lebih nikmat dari sekedar cita-cita yang hanya berbentuk gelar doktor semata.

Tak hanya di Chechnya ia mengobarkan semangat jihad, tapi juga di Dagestan, sebuah daerah yang ingin merdeka dari cengkraman penjajahan. Dagestan adalah sebuah daerah yang hampir sama dengan Chechnya, mayoritas penduduknya adalah kaum Muslimin. Namun, pemerintahan yang mengatur wilayah ini adalah rezim zhalim yang didukung Rusia untuk berbuat sewenang-wenang­ pada rakyatnya. Pencurian merajalela, suap dan laku bejat lainnya sungguh subur tak terkira. Rakyat yang sudah muak akhirnya bertindak. Mereka bersatu mengusir pemerintahan setempat dan mengambil alih kekuasaan. Menerapkan hukum Islam dan mengembalikan keamanan. Hanya dalam waktu singkat, kondisi meningkat sangat baik. Perekonomian bergerak, dan yang lebih penting lagi, ibadah dapat tegak. Melihat perkembangan yang positif ini, banyak wilayak lain melakukan hal yang sama, mereka mengusir pemerintahan lokal dan menggantikannya­ dengan hukum Islam.

Namun barisan kelompok sakit hati, yang terusir dari kekuasaannya tak rela begitu saja. Mereka meminta bantuan kepada Rusia untuk menurunkan kekuatan militer guna menekan kekuasaan Islam yang mulai berkembang. Karenanya, Rusia pun dengan senang hati melakukan pembantaian demi pembantaian. Mengahadapi tekanan yang seperti ini, rakyat dan pimpinan kaum Muslimin di Dagestan mengirimkan permintaan kepada mujahidin di Chechnya untuk membantu perjuangan mereka. Dan permintaan ini disambut dengan suka cita oleh dua sahabat dalam jihad, Ibnul Khattab dan Syamil Basayev.

Setelah melalui dewan pertimbangan, Majelis Syura Mujahidin yang dipimpin oleh Asy Syahid (kama nahsabuhu, red) Syaikh Abu Umar Asy Syaif, seorang murid dari Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin, Ibnul Khattab ditunjuk sebagai pemimpin ekspedisi militer menuju Dagestan pada Desember 1997. Dengan izin Allah, mujahidin berhasil memukul mundur tentara Rusia dari Dagestan. Namun perang mamang tak pernah mudah. Dan satu perang, tak akan pernah selesai, kecuali menyulut peperangan lainnya. Setelah Dagestan, Rusia pun kembali melancarkan serangannya ke Chechnya. Periode ini lebih dikenal dengan Perang Chechnya II.

Dalam perang Chechnya periode kedua inilah, Ibnul Khattab menemui syahidnya. Ia tidak tertembus peluru, ia tidak terserang bom, tapi Rusia dengan keji mengirimkan penyusup ke dalam tubuh pasukan Mujahidin dan meracuni Ibnul Khattab. Ia dibunuh melalui surat yang telah dilumuri racun oleh seorang kurir yang telah direkrut menjadi agen FSB dan mendapatkan imbalan yang sangat besar. Kurir jahannam itu membubuhkan racun pada surat yang dikirim oleh salah seorang komandan mujahidin dan ditujukan kepada Ibnul Khattab. Maret 2002, Ibnul Khattab berpulang ke Rahmatullah. Umurnya belum genap 33 tahun, dan dari umur yang sangat singkat itu, hampir setengah usianya dihabiskan di medan jihad membela agama Allah dan kepentingan kaum Muslimin.

Setelah ia berpulang, di buku hariannya ditemukan puisi kecil yang seolah memprediksi akhir perjalanan hidupnya. Dalam puisinya Ibnul Khattab menuliskan:

Setetes saja racun, akan membunuhmu
Membuatmu tak berdaya melakukan apapun
Kehidupan adalah perjuangan
Dan perjuangan akan menyelamatkanmu­ dari tetesan itu
Tetapi kita tetap menuju fana’
Maka pilihlah jalan yang paling mulia untuk kematian
Jalan yang membawa kemuliaan di surga
Dan jangan sampai kau mati karena urusan dunia
Yang tentu akan melemparkanmu ke neraka

Ibnul Khattab memang telah tiada, tapi seluruh dunia akan mengenangnya sebagai seorang mujahid, sebagai seorang lelaki yang begitu merindukan surga. Selamat jalan manusia perindu surga.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”
(QS Ali 'Imraan [3]: 169-171)


Related Article:

0 comments:


 
Copyright 2010 skooplangsa. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog