Who Else Wants to Learn Arabic So They Can Speak Arabic Confidently and Naturally?

Laman

Imam Al Ghazali sosok guru yang fenomenal

Abu Hamid Al-Ghazali. Inilah salah seorang tokoh Muslim terkemuka sepanjang zaman. Ia dikenal sebagai seorang ulama, filosof, dokter, psikolog, ahli hukum, dan sufi yang sangat berpengaruh di dunia Islam dan peradaban Barat. Pemikiran-pemikiran Al-Ghazali memang sungguh fenomenal.

"Tak diragukan lagi bahwa buah pikir Al-Ghazali begitu menarik perhatian para sarjana di Eropa," tutur Margaret Smith dalam bukunya yang berjudul Al-Ghazali: The Mystic yang diterbitkan di London, Inggris, tahun 1944. Salah seorang pemikir Kristen terkemuka yang sangat terpengaruh dengan buah pemikiran sang ulama, kata Smith, adalah ST Thomas Aquinas (1225 M - 1274 M).
Aquinas--filosof yang kerap dibangga-banggakan peradaban Barat--telah mengakui kehebatan Al-Ghazali dan merasa telah berutang budi kepada tokoh Muslim legendaris itu. Pemikiran-pemikiran Al-Ghazali begitu mewarnai cara berpikir Aquinas yang menimba ilmu di Universitas Naples. Saat itu, kebudayaan dan literatur-literatur Islam begitu mendominasi dunia pendidikan Barat.
Perbedaan terbesar pemikiran Al-Ghazali dengan karya-karya Aquinas dalam teologi Kristen terletak pada metode dan keyakinan. Secara tegas, Al-Ghazali menolak segala bentuk pemikiran filosof metafisik non-Islam seperti Aristoteles yang tidak dilandasi dengan keyakinan akan Tuhan. Sedangkan, Aquinas mengakomodasi buah pikir filosof Yunani, Latin, dan Islam dalam karya-karya filsafatnya.
Filosof Muslim yang diyakini sebagai seorang perintis metode skeptisme sangat saklek. Ia secara tegas menolak segara bentuk pemikiran filsafat metafisik yang berbau Yunani. Dalam bukunya berjudul The Incoherence of Philosophers, Al-Ghazali mencoba meluruskan filsafat Islam dari pengaruh Yunani menjadi filsafat Islam yang didasarkan pada sebab-akibat yang ditentukan Tuhan atau perantaraan malaikat.
Upaya membersihkan filasat Islam dari pengaruh para pemikir Yunani yang dilakukan Al-Ghazali itu dikenal sebagai teori occasionalism. Sosok Al-Ghazali boleh dibilang sangat sulit untuk dipisahkan dari filsafat. Bagi dia, filsafat yang dilontarkan pendahulunya, Al-Farabi dan Ibnu Sina, bukanlah sebuah objek kritik yang mudah, namun juga menjadi komponen penting buat pembelajaran dirinya.
Filsafat dipelajar Al-Ghzali secara serius saat dia tinggal di Baghdad. Sederet buku filsata pun telah ditulisnya. Salah satu buku filsafat yang disusunnya, antara lain, Maqasid al-Falasifa (The Intentions of the Philosophers). Lalu, ia juga menulis buku filsafat yang juga sangat termasyhur, yakni Tahafut al-Falasifa (The Incoherence of the Philosophers).
Al-Ghazali merupakan tokoh yang memainkan peranan penting dalam memadukan Sufisme dengan Syariah. Konsep-konsep Sufisme dengan sangat baik dikawinkan sang pemikir legendaris dengan hukum-hukum Syariah. Ia juga tercatat sebagai sufi pertama yang menyajikan deskripsi Sufisme formal dalam karya-karyanya. Al-Ghazali juga dikenal sebagai ulama Suni yang kerap mengkritisi aliran lainnya. Ia tertarik dengan Sufisme sejak usia masih belia.
Ulama terkemuka yang terlahir di Kota Tus, Khurasan, Iran, pada 1058 M itu bernama lengkap Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Tusi al-Shafi'i al-Ghazali. Ia sudah menjadi anak yatim sejak masih belia. Meski begitu, Al-Ghazali berkesempatan mengenyam pendidikan yang sangat berkualitas. Minat belajarnya telah tumbuh sejak masih cilik.
Di kota kelahirannya, Al-Ghazali mempelajari beragam cabang ilmu agama Islam. Semangat belajarnya begitu tinggi telah memacunya untuk mencari ilmu hingga ke Gurgan dan Nishapur yang terletak di bagian utara Iran. Dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani, ia berguru ilmu fikih. Tak puas dengan ilmu yang telah dikuasainya, Al-Ghazali hijrah ke Gurjan untuk menimba ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma'ili.
Demi mendapatkan ilmu, Al-Ghazali dengan penuh semangat datang Kota Nishapur untuk berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini. Berbekal kesungguhan dan otak yang encer dalam waktu yang tak terlalu lama, Al-Ghazali pun mampu menguasai beragam ilmu keislaman, seperti fikih mazhab Syafi'i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, mantiq, hikmah, dan filsafat.
Prestasinya yang sungguh luar biasa telah membuat sang guru kagum kepadanya. Salah satu karyanya yang mengundang decak kagum Imam Haramain adalah Al-Juwaini. Sepeninggal sang guru, Imam Al-Ghazali pun mulai melanglang buana. Ia pun singgah ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik dari Dinasti Seljuk.
Di tempat itu tengah berkumpul para ilmuwan dan cendekiawan. Imam Al-Ghazali lalu mengajak mereka untuk berdialog. Bermodalkan ilmu yang begitu dalam dan banyak, Al-Ghazali pun diakui kehebatannya oleh para ulama. Kecerdasan dan kepandaian Al-Ghazali pun mampu memincut perhatian Sang Wazir.
Nidzamul Malik pun menabalkannya sebagai pimpinan Madrasah Nizamiyyah yang berada di Baghdad pada 484 H/1091 M. Di usianya yang baru menginjak 30 tahun, pamor Al-Ghazali pun kian meningkat. Kedudukannya makin tinggi dan reputasinya sebagai seorang ulama kian termasyhur. Sebagai pimpinan komunitas intelektual Islam, Al-Ghazali begitu sibuk mengajarkan ilmu hukum Islam di madrasah yang dipimpinnya. Empat tahun memimpin Madrasah Nizamiyyah, Al-Ghazali merasa ada sesuatu dalam dirinya.
Batinnya dilanda kegalauan. Ia merasa telah jatuh dalam krisis spiritual yang begitu serius. Al-Ghazali pun memutuskan untuk meninggalkan Baghdad. Kariernya yang begitu cemerlang ditinggalkannya. Setelah menetap di Suriah dan Palestina selama dua tahun, ia sempat menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci, Makkah. Setelah itu, Al-Ghazali kembali ke tanah kelahirannya. Sang ulama pun memutuskan untuk menulis karya-karya serta mempraktikan Sufi dan mengajarkannya.
Lantas apa yang membuat Al-Ghazali meninggalkan kariernya yang cemerlang dan memilih sufisme? Dalam otobiografinya, dia menyadari bahwa tak ada jalan menuju ilmu pengetahuan yang pasti atau pembuka kebenaran wahyu kecuali melalui sufisme. Itu menandakan bahwa bentuk keyakinan Islam tradisional mengalami kondisi kritis pada saat itu.
Keputusan Al-Ghazali untuk meninggalkan kariernya yang cemerlang juga boleh jadi sebagai bentuk protesnya terhadap filsafat Islam. Al-Ghazali akhirnya tutup usia pada usianya yang ke- 53 pada tahun 1128 M di Kota Tus, Khurasan, Iran. Meski begitu, pemikiran Al-Ghazali tetap hidup sepanjang zaman.
Ia berKata , kalbu itu ibarat cermin. Saat seseorang melakukan satu dosa/maksiat, maka satu noktah hitam menodai kalbunya. Semakin banyak dosa, semakin banyak noktah hitam itu menutupi kalbunya. Jika sudah tertutupi banyak noktah hitam, kalbu yang ibarat cermin itu tidak bisa lagi digunakan untuk bercermin; untuk ’mengaca diri’ dan mengevaluasi diri. Saat demikian, kepekaan spiritual biasanya akan lenyap dari dirinya. Jika sudah seperti itu, jangankan dosa kecil, apalagi sekadar berbuat makruh dan melakukan banyak hal mubah yang melalaikan, dosa besar sekalipun mungkin tidak lagi dianggap besar. Jangankan meninggalkan hal sunnah, meninggalkan kewajiban pun mungkin sudah dianggap biasa. Pasalnya, kepekaan kalbunya nyaris hilang; tidak lagi mampu mendeteksi dosa, apalagi dosa yang dianggap kecil.
Suatu hari, Imam al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam beliau bertanya bebeapa hal.

Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?. "
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam al-Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (QS. Ali Imran 185)

Lalu Imam al-Ghazali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar, ujarnya, adalah "MASA LALU."

Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam al-Ghazali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (QS. Al- a'araf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (QS. Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam al-Ghazali. Namun menurut beliau yang paling ringan di dunia ini adalah 'meninggalkan SHALAT'. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan shalat, gara-gara meeting kita juga tinggalkan shalat.

Lantas pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam al-Ghazali. Tapi yang paling tajam adalah "lidah MANUSIA". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Imam Al-Ghazali, , pernah mengirim surat kepada salah seorang muridnya. Melalui surat itu, Al-Ghazali ingin menyampaikan tentang pentingnya memadukan antara ilmu dan amal. Berikut petikannya.
Anakku…
Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Karena, ia keluar dari mulut yang tidak biasa merasakan pahitnya nasihat. Sesunggunya siapa yang menerima ilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka pertanggungjawabannya akan lebih besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Orang yang paling berat azabnya pada hari kiamat kelak adalah orang berilmu (‘alim; ulama) yang tidak memanfaatkan ilmunya.”
Anakku…
Janganlah engkau termasuk orang yang bangkrut dalam beramal, dan kosong dari ketaatan yang sungguh-sungguh. Yakinlah, ilmu semata tak akan bermanfaat-tanpa mengamalkannya. Sebagaimana halnya orang yang memiliki sepuluh pedang Hindi; saat ia berada di padang pasir tiba-tiba seekor macan besar nan menakutkan menyerangnya, apakah pedang-pedang tersebut dapat membelanya dari serangan macan jika ia tidak menggunakannya?! Begitulah perumpamaan ilmu dan amal. Ilmu tak ada guna tanpa amal.
Anakku…
Sekalipun engkau belajar selama 100 tahun dan mengumpulkan 1000 kitab, kamu tidak akan mendapatkan rahmat Allah tanpa beramal.
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi [18]: 110)
Anakku…
Selama tidak beramal, engkau pun tidak akan mendapatkan pahala. Ali Karramallahu wajhahu berkata, “Siapa yang mengira dirinya akan sampai pada tujuan tanpa sungguh-sungguh, ia hanyalah berangan-angan. Angan-angan adalah barang dagangan milik orang-orang bodoh.
Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata, “Meminta surga tanpa berbuat amal termasuk perbuatan dosa.”
Dalam sebuah khabar, Allah SWT berfirman, “Sungguh tak punya malu orang yang meminta surga tanpa berbuat amal.”
Rasulullah saw bersabda, “Orang cerdas ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya dan berbuat untuk setelah kematian. Dan orang bodoh ialah siapa yang memperturut hawa nafsunya dan selalu berangan-angan akan mendapatkan ampunan Allah.”
Anakku…
Hiduplah semaumu, karena pada hakikatnya engkau itu mayit. Cintailah sesukamu, karena pasti engkau akan meninggalkannya. Dan, lakukanlah amal karena pasti engkau akan diberi balasan.
Ilmu tanpa amal adalah gila. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah [02]: 44). Dan, amal tanpa ilmu adalah sia-sia. Keduanya harus dipadukan satu sama lain.
Ilmu semata tak akan menghindarkanmu dari maksiat hari ini, dan tidak pula dapat menyelamatkanmu dari siksa neraka di hari esok. Jika hari ini kamu tidak sungguh-sungguh beramal, maka pada hari kiamat kelak engkau akan berkata, “Kembalikanlah kami (ke dunia) agar dapat melakukan amal salih.” Namun, dijawab, “Hei kamu, bukankah kamu telah dari sana?!”
“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin [36]: 54)
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang berkah dan kemampuan untuk merealisasikan ilmu-ilmu yang telah Dia anugerahkan kepada kita. Amin….


Kontribusi Sang Sufi bagi Ilmu Pengetahuan
Sebagai ilmuwan dan ulama serbabisa, Imam Al-Ghazali tak hanya memberi sumbangan penting bagi perkembangan ilmu keislaman, filsafat, dan sufi. Ia pun turut berjasa dalam membangun sains. Berikut ini adalah kontribusi Al-Ghazali bagi ilmu pengetahuan:

Biologi dan Kedokteran
Al-Ghazali juga dikenal sebagai seorang dokter. Ia pun diyakini sebagai salah seorang tokoh yang mendorong berkembangnya studi kedokteran di era kejayaan Islam, khususnya ilmu anatomi. Dalam bukunya berjudul The Revival of the Religious Sciences dia menempatkan kedokteran sebagai ilmu yang terpuji. Sebagai seorang saintis dan ulama, ia justru membenci astrologi yang dinilainya sebagai ilmu yang pantas dicela.
Dukungannya terhadap pengembangan ilmu anatomi telah memberi pengaruh yang besar bagi dokter Muslim di abad ke-12 dan ke-13 M untuk mengembangkannya. Salah satu dokter Muslim terkemuka yang terpengaruh dengan pemikiran Al-Gazhali tentang ilmu anatomi adalah Ibnu Al-Nafis.
Kosmologi
Sang ulama juga turut menyumbangkan pemikirannya dalam mengembangkan kosmologi. Al-Ghazali telah memberi warna bagi pengembangan ilmu yang mempelajari struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi biasanya dipelajari dalam astronomi, filosofi, dan agama. Dalam kosmologi, Al-Ghazali mencoba untuk mematahkan pendapat para filosof Yunani, seperti Aristoteles yang menyatakan bahwa alam semesta memiliki masa lalu yang tak terbatas yang tak bermula. Al-Ghazali tak sependapat dengan argumen para pemikir Yunani itu. Ia pun menawarkan dua alasan logis untuk menjungkirbalikkan argumen Aritoteles tentang infinite past. Al-Ghazali menyatakan bahwa alam semesta ini memiliki masa lalu yang tak terbatas. Semesta raya ini, kata dia, juga memiliki awal.
Psikologi
Al-Ghazali pun turut berjasa dalam mengembangkan psikologi Islam dan psikologi Sufi. Dalam dua kajian psikologi itu, ia banyak membahas tentang konsep diri serta penyebab penderitaan dan kebahagiaan. Ia menggunakan istilah psikologi yang dikembangkannya sendiri, seperti qalbu (hati), roh, nafs (jiwa), dan aql (pikiran). Menurut dia, sesuatu yang ideal begitu dirindukan dan melekat pada setiap diri.
"Setiap diri memiliki dorongan sensori dan motorik untuk memenuhi kebutuhan jasadnya," papar Al-Ghazali. Keduanya melahirkan selera dan kemarahan. Menurutnya, selera mendorong rasa lapar, haus, dan dorongan seksual. Sedangkan kemarahan memicu terjadinya kemurkaan dan balas dendam. Ia membagi motif sensori menjadi lima indera luar, sepert mendengar, melihat, mencium, merasa, dan menyentuh.

Al-Ghazali telah melahirkan sederet adikarya yang penting bagi peradaban Islam dan dunia. Mahakaryanya berupa kitab-kitab yang legendaris terbagi dalam beberapa bidang .

Ilmu Agama (8)
- Al-Munqidh min al-Dalal (Rescuer from Error)
- Hujjat al-Haq (Proof of the Truth)
- Al-Iqtisad fil-I`tiqad (Median in Belief)
- Al-Maqsad al-Asna fi Sharah Asma' Allahu al-Husna (The Best Means in Explaining Allah's Beautiful Names)
- Jawahir al-Qur'an wa Duraruh (Jewels of the Qur'an and its Pearls)
- Fayasl al-Tafriqa bayn al-Islam Wal-Zandaqa (The Criterion of Distinction between Islam and Clandestine Unbelief)
- Mishkat al-Anwar (The Niche of Lights)
-Tafsir al-Yaqut al-Ta'wil

Sufisme (7)
- Mizan al-'Amal (Criterion of Action)
- Ihya' Ulum al-Din: inilah karya Al-Ghazali yang paling terkenal.
- Bidayat al-Hidayah (Beginning of Guidance)
- Kimiya-ye Sa'adat (The Alchemy of Happiness)
- Nasihat al-Muluk (Counseling Kings)
- Al-Munqidh min al-Dalal (Rescuer from Error)
- Minhaj al-'Abidin (Methodology for the Worshipers)

Filsafat (5)
- Maqasid al Falasifa (Aims of Philosophers)
-Tahafut al-Falasifa (The Incoherence of the Philosophers)
- Miyar al-Ilm fi fan al-Mantiq (Criterion of Knowledge in the Art of Logic)
- Mihak al-Nazar fi al-Mantiq (Touchstone of Reasoning in Logic)
- Al-Qistas al-Mustaqim (The Correct Balance)

Yurisprudensi (5)
- Fatawy al-Ghazali (Verdicts of al-Ghazali)
- Al-Wasit fi al-Mathab (The medium [digest] in the Jurisprudential School)
- Kitab Tahzib al-Isul (Prunning on Legal Theory)
- Al-Mustasfa fi 'Ilm al-Isul (The Clarified in Legal Theory)
- Asas al-Qiyas (Foundation of Analogical reasoning).

Pendengar setia Banyak sarana yang bisa kita gunakan untuk memperbarui iman. Sekadar contoh: ziarah kubur; mengunjungi orang-orang salih, orang-orang bertakwa, ulama terpercaya, para mujahid dan orang-orang ikhlas; membaca sekaligus menyelami sirah generasi salaf, para ahli ibadah, orang-orang zuhud, para mujahid, para pembela kebenaran, orang-orang sabar dan orang-orang bersyukur; meningkatkan porsi ibadah; menyendiri (ber-khalwat) setiap hari atau dari waktu ke waktu walaupun cuma sebentar; memperbanyak khatam al-Quran, berdoa, qiyâmul layl, bersedekah lebih banyak daripada sebelumnya; dsb.
Membaca biografi mujahid seperti Khalid bin al-Walid,Muhammad Al Fatih,salahudin al ayyubi dan lainnya , akan mampu membuat pendengar setia meremehkan dunia, syahwat dan kenikmatannya yang bersifat sesaat; membuat kita tidak takut dan selalu mencintai kematian, tentu di jalan kemuliaan.
Membaca biografi orang-orang zuhud dan salih akan menumbuhkan kezuhudan dan kesalihan dalam kalbunya. Membaca biografi para ahli ibadah akan mampu mendidik jiwa untuk gemar melakukan qiyâmul layl, shaum sunnah, zikir, berdoa, khusyuk dan menangis karena takut Allah SWT. Membaca biografi orang-orang yang gemar bertobat dapat menumbuhkan benih-benih tobat dalam kalbunya; juga membuka ‘kran-kran’ airmata penyesalan pada dirinya yang tadinya tidak kenal menangis karena takut Allah SWT.
Sarana lain untuk memperbarui iman ialah menyendiri dengan dirikita sendiri; di luar qiyâmul layl, zikir dan membaca al-Quran. Disebutkan dalam salah satu atsar bahwa orang berakal mempunyai empat waktu. Salah satunya ialah saat ia menyendiri dengan dirinya sendiri .
Menyendiri sesaat sangat urgen bagi kita. Dengan bersendirian kita dapat ‘berduaan’ dengan Allah SWT, damai dan dekat dengan-Nya, serta merasakan lezatnya bermunajat kepada-Nya. Dengan bersendirian sesa’at kita juga dapat mengevaluasi diri. Ketika bersendirian kita ingat akan dosa-dosa sekaligus menumpahkan airmata penyesalan dan tobat kepada-Nya. Ia semakin takut kepada Allah SWT; malu, cinta dan tunduk pada kebesaran-Nya.
Semua upaya itu, insya Allah, akan mengembalikan kepekaan spiritual dalam diri seorang muslim, karena setiap waktu imannya adalah iman yang selalu baru; iman yang semakin menghujam dalam kalbu. Wa mâ tawfîqî illâ billâh
Tentang ke tatanegaraan islam Al Ghazali mengatakan “Kita tidak mungkin bisa menetapkan suatu perkara ketika negara tidak lagi memiliki imamah (Khilafah) dan peradilan telah rusak." (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn. Lihat juga syarahnya oleh az-Zabidi, II/233). Pernyataan ini membuktikan pada kita bahwa ulama besar seperti imam Al Ghazali pun mengakui pentingnya Negara dengan sistem berbasis syariah dalam naungan imamah/Khilafah.agar setiap perkara yang di ambil dalam penentuan hukum tetap sesuai dengan akidah yang di anut umat.(menentramkan hati,memuaskan akal dan sesuai fitrah manusia.
Hari ini masih banyak anak-anak kaum muslimin yang punya potensi dan bakat besar untuk menjadi seperti imam Al Ghazali,namun himpitan ekonomi dan penjajahan budaya yang di konspirasi barat terhadap Negara Negara islam membuat bakat dan potensi generasi umat islam tak tersalurkan dengan benar.

Jangankan memikirkan pendidikan berkualitas (yang pasti mahal) urusan perut saja terancam.belum lagi media komprador barat yang meracuni umat dengan tayangan tayangan sampah seperti : sinetron yang hanya mengumbar kemewahan dan gaya hidup,asmara dengan gaya jahiliyah ala barat.relity show yang mendewakan keartisan,sinetron remaja dan anak yang tak punya nilai edukatif.dengan aroma pacaran ala maksiat plus bumbu ghaib yang tak masuk akal.

Ini semua yang membuat generasi kita merasa segala sesuatu yang berasal dari barat adalah baik ,keren,gaul. Dalam hal ini jelas control Negara sangat dibutuhkan untuk mengatur urusan umat dengan kembali menerapkan syariah. Dalam sistam khilafah.bukan dengan system demokrasi yang jelas-jelas bertentangan dengan syariah islam.dimana hukum manusia lebih prioritas dan hukum Allah (syariah) di campakkan.

Hari ini ketika seorang suami menjalankan hukum Allah dengan memaksa istrinya untuk sholat maka ia bisa di gugat dengan alasan HAM.begitu juga seorang anak yang di paksa ayahnya untuk beribadah, siayah biasa di penjara karena KDRT.
Hari ini ketika kita muak dengan kemaksiatan dan mulai menghancurkan pabrik pabrik minuman keras,tempat tempat lokalisasi pelacuran yang di legalisasikan oleh hukum demokrasi.maka akan mandapatkan penjara.

Hal inilah yang menyebabkan pentingnya khilafah.sebab khilafah lah satu satunya system yang mengatur hukum berdasarkan hukum Al Quran dan Assunah tanpa khilafah tak mungkin syariah berjalan sempurna.
ya Allah sungguh hanya kepada engkaulah orang - orang mukmin bersujud dan mengadu akan kehidupan dunia yang membuat mereka kadang terlupakan akan kehidupan akhirat, maka ajarilah ilmu mu yang engkau berikan kepada imam Al Ghazali pada kami dan keberhasilan yang engkau berikan kepada umar ibn abdul aziz untuk kembali menegakan ajaran mu ya Allah…….. jadikanlah kami hamba yang berguna bagi tegaknya agama mu yang mulai runtuh sebagai mana sallahuddin al ayubi berusaha tetap menegakan ajaranmu di saat umat islam terpecah dan orang - orang kafir berkuasa …ya Allah kami muak hidup dalam naungan hukum buatan nafsu manusia maka tolonglah kami ya Allah dalam meneggakkan kembali Syariah mu dalam naungan daulah Khilafah islamiah amin ya roobal alamin

Related Article:

0 comments:


 
Copyright 2010 skooplangsa. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog